This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, 13 November 2017

Benteng Oranje dan Aksi Kreatif Orang Muda

Meski di tengah kota, kesunyian kian terasa. Lampu di tiang listrik sesekali padam, tak sampai tiga menit menyala lagi. Satu persatu orang muda mulai berkumpul. Kali ini, ruang sunyi di Benteng Oranje itu mulai ramai dipadati orang muda dari berbagai komunitas.
Hampir 40 komunitas dari berbagai alur malam itu, Senin (14/11/2017) berkumpul dalam satu wadah Jaringan Komunitas Ternate (JARKOT). Mereka membahas kesiapan aksi kreatif berbagai komunitas dalam sebuah kegiatan besar bertajuk “Pesta Komunitas Ternate” yang berpusat di Benteng Oranje pada 18 November mendatang.

Baca: Ketika Orang Muda Bergabung Menjadi JARKOT
JARKOT sendiri lahir dari sebuah kegelisahan yang pernah dihadapi hampir semua komunitas, misalnya soal ketersediaan ruang publik untuk komunitas, bahkan soal ego sektoral. Meski begitu, lahirnya JARKOT bukan menjadi satu komunitas baru untuk membawahi komunitas yang lain.
Komunitas dari berbagai alur yang tergabung yakni, pendidikan literasi, seni, sosial, budaya, konservasi, industri kreatif, dan lainnya ini sebagain besar telah banyak berbuat, meluangkan waktu dan tenaga mereka untuk hal baik.

“JARKOT adalah alat kita bersama dan pesta komunitas bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, tujuan kita adalah untuk saling membantu sesama komunitas, berbuat sesuatu yang baik untuk banyak orang, untuk daerah ini,” ungkap Zandry Aldrin, selaku kordinator  JARKOT, saat rapat bersama seluruh komunitas.

Zandry menambahkan, pada 18 November nanti, berbagai komunitas akan menampilkan kreatifitas mereka. Ada yang berbagai ilmu dengan siswa-siswa SMA, membuka lapak buku, pertunjukan musik tradisional, berbagi pemahaman konservasi, mengenal sejarah benteng Oranje, berbagi ilmu video dan photografi, bahkan ada industri kreatif.

Salah satu penggagas JARKOT Vennox mengatakan, kehadiran JARKOT merangkul komunitas-komunitas  yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Selain itu, berbagai kegiatan komunitas justeru menghidupkan ruang-ruang publik yang ada di Kota Ternate yang selama ini terlihat sepi, contohnya lokasi Benteng Oranje ini.

“kita bisa melihat Kota Ambon, peran komunitas menjadikannya kota musik. Misinya adalah perdamaian dan mereka memanfaatkan ruang publik. Begitu juga Jogja, kotanya begitu hidup karena berbagai komunitas sangat aktif,” ungkap Vennox.

ia menambahkan, bahwa target para komunitas, kegiatan ini tidak hanya dibuat setahun sekali, namun, kedepan, ada rangkain kegiatan dalam seminggu sekali dan Benteng Oranje menjadi sentral dari kegiatan-kegiatan komunitas yang bermanfat pada ruang publik.

Ia menjelaskan bahwa, kegiatan ini adalah miniatur untuk pesta komunitas yang sengaja dibuat, bebas untuk semua komunitas merencanakan kegiatan yang lebih besar di tahun 2018 nanti.
"kurang lebih 52 ivent yang akan diadakan di tahun 2018, yang diisi oleh semua komunitas kota Ternate," tambahnya.

komunitas yang akan ikut pada kegiatan akbar tahun ini, Lebih dari 30 Komunitas, tidak menutup kemungkinan, komunitas lain yang belum sempat bergabung akan turut berpartisipasi, sebab, setiap saat, panitia menerima email dari berbagai komunitas. Hanya saja, kendala saat ini adalah soal ketersedian tenda.

"kami mendata komunitas itu dilihat dari Tiga Faktor, terutama soal fisik, artinya mereka benar-benar ada, kemudian secara sosial, yaitu aktivitas mereka yang berdampak di masyarakat, berikutnya soal ekonomi, maksudnya mereka mampu menghidupkan komunitas mereka atau tidak. Dan, komunitas yang mempunyai andil terhadap banyak orang perlu diberikan penghargaan. Ini agar menambah spirit teman-teman kita dari berbagai komunitas," ujar Venox.

Sunday, 5 November 2017

Ketika Orang Muda Bergabung menjadi JARKOT

Pada 15 Oktober 2017 bukan menjadi tanggal penting. Namun di balik itu, tanggal tersebut merupakan catatan bagi sebagian orang muda daribeberapa komunitas di Kota Ternate berkumpul-bersama dan berbagi cerita akan kegiatan kreatif yang telah dilakukan. Saat itu pula, lahirlah satu wadah independen yang disebut JARKOT atau Jaringan Komunitas Ternate sebagai wadah berhimpun orang muda dari berbagai latar komunitas di Kota Ternate.

Dari masing-masing orang muda yang telah bergabung memiliki semangat yang tinggi merangkul komunitas lainnya guna menciptakan visi dan gerakan bersama. Lalu lahirlah gerakan #KitaKreatif yang dikemas dalam sebuh ivent  bertajuk “Pesta Komunitas Ternate” dimulai pada Sabtu, 18 November 2017 yang berpusat di Benteng Oranje.

Pesta Komunitas adalah salah satu ivent besar untuk merangkul orang muda di Kota Ternate menampilkan bakat bahkan berbagi ide untuk gerakan JARKOT ke depan. Saat ini, sekira 30 lebih komunitas lewat satu orang kordinator bergerak bersama dalam JARKOT. Dari komunitas tersebut ada yang bergerak pada pendidikan-literasi, blogger, seni, budaya, photograph dan videograph, pariwisata, otomotif, komunitas motor, hingga komunitas sosial lainnya.

Atas nama panitia melalui JARKOT saat ini, mendorong dan mengapresiasi para komunitas untuk selalu berkarya yang lebih baik dan semakin kreatif, sehingga para komunitas yang nanti berada dalam JARKOT dapat berperan serta membangun  Kota Ternate ini.

Zandry Aldrin, yang dipercayaai sebagai kordinator JARKOT saat ini mengatakan, melihat kondisi saat ini, masih bergerak sendiri-sendiri. Namun, ia meyakini, bahwa setiap komunitas mempunyai tujuan yang positif untuk orang banyak.

“Saat ini, kondisi komunitas masih berjalan sendiri-sendiri. Lewat wadah ini, tanpa klaim,  kita para pemuda dapat begkumpul, berkolaborasi untuk menghasilkan sesuatu yang besar dan diperjuangkan secara bersama-sama,” Ungkap Zandry.

Zandry berharap, kegiatan ini menjadi ivent tahunan yang digerakan para orang muda di Kota Ternate. Pada tahun-tahun berikut, diharapkan, salah satu dari komunitas yang ada berperan sebagai kordinator JARKOT agar wadah ini menjadi milik bersama para orang muda yang memiliki integritas.


Pesta Komunitas Ternate terbuka seluas-luasnya untuk para orang muda yang berada di mana saja, baik pemuda kampung bahkan pemuda yang berada di jajaran pemerintahan yang memiliki enerjik dan semangat  berpartisipasi melalui karya membangun Kota Ternate ini.  

Saturday, 10 June 2017

Senja di Batas Batu

Senja sudah turun di Mumugu Batas Batu, Asmat. Anton (6), Steven (5) dan Ema (5) tiba di rumah. Biasanya mereka pulang sekolah dengan riang, walau harus berjalan kaki selama satu jam. Kali ini, justru rona duka memancar di wajah ketiga bocah Papua.

Saat itu, Falentina (52) sedang menunggu Anton, Steven, dan Ema. Beliau sedang memasak makanan untuk mereka bertiga. ”Cucu nenek sudah datang, ayo makan,”ujar Falentina, nenek angkat ketiga murid sekolah yang baru pualang itu. 

Anton, Steven, dan Ema hanya diam, terpaku sedih. Anton bahkan mengambil kain untuk mengikat kepala, seakan tertekan dengan pikiran beratnya. Steven duduk di pojok dinding rumah sambil merangkul kedua lututnya, dengan suara merintih. Ia menahan isak tangis sementara  Ema berdiri di pintu dapur, juga tak dapat menahan tangis. ”Kalian kenapa?  cucu nenek ini sedang dilanda apa?,” Tanya Falentina keheranan.
”Nenek, kita sudah kelas dua SD tapi pak guru turunkan kita di TK (Taman Kanak-kanak) lagi,” kata Ema terseduh-seduh. 

Hari itu mereka bertiga bahkan tak selera makan. Sampai malam harinya, Falentina dan Suaminya, Suabra (56) harus memaksa mereka bertiga makan.
Anton, Steven, dan Ema adalah anak-anak dari distrik Sawaerwa, desa tetangga Mumugu Batas Batu, Asmat yang jaraknya menempuh tiga jam perjalanan sungai menggunakan speed boat dari kampung Mumugu Batas Batu, tempat mereka tinggal. Suabra yang juga sebagai Penasehat Suku di Mumugu Batas Batu itu mengambil mereka dengan harapan untuk bersekolah. 

Suabra mengisahkan, pada tahun 80-an, orangtua/ayah Anton dan Steven pernah bekerja sebagai motoris speed boat penumpang namun kedua orangtua mereka meninggal dunia. ”Harapan orangtua Anton dan Steven, anak mereka tidak lagi hidup susah. sedangkan orangtua Ema berharap, Ema bisa sekolah dan mempunyai cita-cita,” kata Suabra, matanya terlihat berkaca-kaca saat mengisahkan perjuangan orangtua ketiga anak itu ketika ditemui Guru SOKOLA di Rumahnya. 

Selama tinggal bersama Suabra dan Falentina, Anton dan Steven bercita-cita menjadi Polisi Lalulintas sedangkan Ema bercita-cita menjadi guru. Cita-cita tersebut pernah mereka sampaikan ke Khusnul Wahyu (30) guru SOKOLA yang mengajari mereka bertiga baca tulis.

Semenjak kejadian  mereka pulang belajar itu, mereka tidak lagi belajar selama seminggu. Khusnul pernah menunggu tiga muridnya itu mulai pagi sampai sore hari namun ketiganya tidak kunjung datang. Akhirnya, Khusnul bersama Habibi Hibbu (30),  dan saya bersepakat berkunjung ke rumah Suabra untuk mengetahui keberadaan mereka. 

Sesampai di rumah Suabra, barulah kita ketahui pokok masalah. Bukan guru yang menyuruh mereka bertiga pindah di kelompok bermain pada program Literasi Sokola Rimba, Papua. 

Waktu itu karena Habibi mengidap malaria jadi tidak mengajar untuk kelas baca-tulis dikte dan Khusnul yang mengambil alih mengajar di kelompok muridnya Habibi, sedangkan saya mengajar di kelompok murid baca dua suku kata. Karena banyak murid yang digabung hari itu, berkisar 90 lebih anak. Anton, Steven, dan Ema diajak oleh murid yang lain ke kelompok bermain. 

Setelah disampaikan ke Suabra bahwa ketiga murid tersebut tidak di turunkan kelas baru, ketiga murid tersebut mengerti dan mau belajar lagi.

Memberikan Contoh
Suabra, kakek angkat Anton, Steven, dan Ema, selalu memberikan contoh hidup mandiri belajar berkebun dan berternak. Tidak hanya itu, Suabra juga selalu memberikan contoh kepada masyarakat sekitar untuk membuat kebun dan berternak hewan seperti ayam, bebek, dan babi. Sebab, menurutnya, hampir sebagian besar masyarakat di Batas Batu hidup meramu, berburu, dan mencari ikan di sungai. Mereka sangat bergantung dengan alam namun tidak berkebun,” alam ini seakan memanjakan masyarakat di sini. hasil buruan hari ini dimakan habis, besok berburu lagi,” kata Suabra, pensiunan Polisi itu.

Meskipun masyarakat masih bisa mencari makan di hutan mereka namun, minimnya pendidikan formal menjadi suatu kekhawatiran akan masa depan anak-anak,”Sayangnya masyarakat Mumugu minim akan pendidikan formal yang tidak tersedia. Masyarakat di sini belum berpikir akan perubahan yang akan datang, padahal daerah ini sudah mulai banyak pendatang seperti pedagang, pemburu kayu gaharu, dan para kontraktor membuat jalan,” katanya.

Fasilitas Pendidikan   
Persoalan lain di Mumugu Batas Batu, belum adanya guru dari pemerintah yang betul-betul ingin mengabdikan diri. Menurut masyarakat setempat, ada beberapa guru pernah datang bertugas di Mumugu Batas Batu dengan fasilitas tempat tinggal dan sekolah yang tersedia. Namun tidak mengajar secara serius
 ”Dulu ada guru datang ke sini, mengajar Cuma dua hari habis itu pulang tidak balik kesini lagi, habis itu ada yang datang lagi, karena cuma datang sebentar saja, masyarakat di sini pernah usir guru,” kata Kepala Suku Daniel Menja ketika di temui guru SOKOLA di Jew/Rumah Bujang. 

Para guru tersebut hanya datang paling lama satu minggu bahkan hanya dua hari setelah itu tidak mengajar lagi. Hal itu berlangsung lama, hingga mengakibatkan anak-anak di Mumugu Batas Batu, masih buta aksara hingga kini gedung sekolah terbiarkan kosong.

”Kalau guru datang hanya dua hari atau dua minggu, lebih baik tidak usah datang lagi,” ujar Kepala Suku. 
Beberapa anak-anak seperti Yosepa Toraisop, Sempa Puih, Daniel Aribok, dan Natalis pernah bersekolah di Sekolah Tinggkat Dasar di Pusat Distrik Sawaerma. Namun karena alasan jarak sekolah yang jauh bahkan sering mendapat kekerasan dari guru, anak-anak ini memilih tidak bersekolah lagi.

Sempa sempat bercerita bahwa ayahnya putus asa dan menyarankan Sempa tidak harus pergi sekolah di Sawaerma karena ayahnya sudah tua dan tidak mampu berburu, mecari makanan secukupnya, ”Bapak saya dengar dari Keuskupan Agast bahwa nanti ada guru SOKOLA RIMBA ke sini jadi saya belajar di sini saja,” kata Sempa Puih.

Selain itu Yosepa Toraisop, yang juga pernah sekolah di Sawaerma itu mengatakan, masih ingin melanjutkan sekolah hingga dapat mengejar cita-cita menjadi guru untuk ia dapat mengajar anak-anak kecil di Mumugu, ”Tapi saya takut masuk sekolah di Sawaerma, ada satu guru jahat sekali, saya dan teman-teman  sering dipukul pakai kayu besar kalau kita bermain,” kata Yosepa.

  
Peran SOKOLA RIMBA
Keberadaan Guru SOKOLA yang bekerjasama dengan Keuskupan Agats, Asmat bisa dikatakan melahirkan harapan baru bagi anak-anak Mumugu Batas Batu yang banyak menggantungkan harapan dan cita-cita nantinya dengan proses pendidikan sekolah formal. 

Program Literasi SOKOLA Papua di Mumugu Batas Batu selama enam bulan namun, baru memasuki tiga bulan proses belajar-mengajar SOKOLA, perkembangan pengetahuan murid sudah sangat terlihat, sudah dapat membaca, menulis cerita/mengarang, berhitung-perkalian, dan pembagian angka.
Perkembangan anak-anak ini menjadi kabar baik di kampung tetangga, Mumugu bawa, Sawaerma maupun di Kabupaten Agats. Anak-anak dari desa Sawaerma dan Mumugu Bawa bahkan ada yang datang ke Mumugu Batas Batu, mereka meminta untuk diajarkan baca tulis oleh Guru SOKOLA.

Dalam proses mengajar, anak-anak murid SOKOLA dibagi dalam empat kelompok, pertama, kelompak bermain untuk tingkat anak di bawah umur 6 tahun, kelompok kedua, anak-anak umur 6 tahun ke atas dengan proses pengenalan huruf alphabet. Kelompok ketiga terdiri dari dua kelas, para murid yang sudah dapat membaca dua sampai tiga suku kata dan empat suku kata kelas sendiri. Kelompok ke empat, para murid yang sudah sampai di tinggkat belajar dikte, berhitung, perkalian, dan pembagian angka.

Proses belajar pun tidak mengenal ruang kelas, para murid lebih suka di ruang terbuka-belajar sambil bermain di seberang sungai, dan di hutan saat mencari makanan.

Melihat perkembangan anak-anak, para orangtua pun ikut semangat menginginkan anak-anak mereka bisa melanjutkan pendidikan sekolah, menyelesaikan pendidikan di bangku SMA bahkan ada orangtua yang menginginkan anak-anak mereka menjadi guru, perawat, dan mantri supaya bisa membantu masyarakat Mumugu Batas Batu yang 90 persen mengidap penyakit kusta.  

”Air mata saya sempat menetes, melihat beberapa orangtua sehabis bekerja angkat barang pedatang di pelabuhan kecil, mereka langsung menuju kios  belanja buku tulis untuk anak-anak belajar,” ungkap Suabra.


Selamat Menempuh Hidup Baru, Mustafa dan Anisa



BACAN – Pertemuan Dua keluarga mempelai Pria, Mustafa Amarullah, SH, Wartawan Aspirasi Malut dengan keluarga mempelai wanita Anisa Hasan, S.Sos akhirnya terjadi kesepakatan akat nikah pada Senin, 17 April 2017 Pukul 17.00 WIT di kediaman mempelai wanita, di Desa Mandaong, Halmahera Selatan.
 Seletah itu, acara resepsi pun akan dihelat di tempat kelahiran mempelai pria, di Pulau berpasari putih, yakni Pulau Ngele-Ngele Besar, tepatnya di  Kabupaten Pulau Morotai pada pada Sabtu, 22 April 2017 pukul 19.00 WIT.

Mustafa adalah sarjana Hukum Tata Negara dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara,  wartawan Aspirasi Malut, semasa kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selain itu, ia mengasah keterampilan menulis di  Perhimpunan Lingkar Arus Studi (PILAS). Mus, Sapaan Mustafa adalah anak ke-4 dari pasangan suami-istri Tasri Amarullah (Ayah) dan Nafsiah Juba (Ibu).

Sedangkan Anisa Hasan, buah hati dari pasangan suami-istri, Hi Hasan Sobak (Ayah) dan Sitna Hi A Rahman (Ibu). Semasa kuliah, Anisa juga aktif di PILAS dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Anisa pun lulus di Universitas yang sama dengan Mustafa, yakni universitas Muhamadiyah Maluku Utara pada jurusan Sosiologi, Fakultas FISIP.

Mustafa mengisahkan, pertemuan mereka berawal dari Kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) sejak tahun 2008. Awalnya, mereka berdua dikenalkan oleh seorang dosen, yakni Saiful Madjid.
“Saat itu, kami sedang riset pembuatan monografi desa di Desa Talaga, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera barat. Saat itulah, pak Saiful yang sudah saya anggap sebagai orang tua saya memperkenalkan saya dengan Anisa,”Mustafa Berkisah.

Mereka berdua pun saling menopang saat masa-masa sulit di bangku kuliah.
Seiring waktu, sejak lulus dari UMMU pada tahun 2012, Mustafa kembali ke kampung Halaman dan mulai berbagi ilmu yakni berprofesi sebagai guru honor di MTS Alkhairaat dan Aliyah Alkhairaat di Pulau Ngele-Ngele Besar.

Sedangkan Nisa lulus kuliah lebih awal dari Mustafa yakni pada tahun 2011. Nisa pun berkarir di Bacan, Halmahera Selatan, di sebuah diler. Bisa di kata, kedua pasangan ini, berpisah cukup lama.

Pada tahun 2014, Mustafa memulai karir jurnalistik di Surat Kabar Harian Mata Publik. Jenjangnya bisa dikatakan mulus sebab, beberapa bulan bekerja, ia langsung di tempatkan sebagai wartawan biro di Kabupaten Halmaheta Barat. Kemudian, pada tahun 2016, ia mulai berkarir lagi di Aspirasi Malut dengan posisi yang sama yakni Biro Halmahera Barat.

Meskipun mereka berdua berpisah antar pulau, hubungan mereka tetap terjalin. Mereka saling melepas rindu lewat telepon seluler. Hingga suatu saat, mereka pun memutuskan untuk hidup bersama yang ditandai dengan prosesi izab qabul.

“insha Allah, kami berdua akan membangun peradaban, yakni berumah tangga sebagai pasangan suami-istri. Kami selalu berharap, hubungan ini tetap di jalan yang diridohi Allah SWT,” ungkap Mustafa dan Nisa.

Bukan lagi Sebuah Kesepian

Kita telah menjadi satu
Dan aku tak lagi menjadi angin
Lalu hidup bukan lagi sebuah kesepian
Ketika jarak mengundang rindu
Mantera menjelma dirimu
Dan aku takperlu lagi menjadi angin
Menjagamu dari segala air mata.

Tobelo, 02 Mey 2017

Mendengar lantunan Innallah Ma’ana dari Sunu dan Ray di Bacan






“Innallah Ma’ana, janganlah kau takut
Berlindunglah kepada Allah Yang maha Kuasa
Innallah Ma’ana, janganlah bersedih
Tersenyumlah dan sambut hari esok yang indah”

Kiranya, begitu penggalan lagu ‘Innallah Ma’ana’  yang saya dengar saat itu di Kedai Fatimah, di Labuha, Bacan, Halmahera Selatan, Selasa, 23 Mei 2017, pukul 16.30 WIT, dalam Meet and greet bersama  Sunu Hermaen, mantan Vokalis Matta Band dan Ray Shareza, yang dikenal sebagai vokalis Group Band Nineball, dan Nia Paramitha di Fatimah.

Link terkait:  Mendengar lantunan Innallah Ma’ana dari Sunu dan Ray di Bacan

Seketika, kepala saya tertunduk, mata pun berlahan terpejam. Saya ikut larut dalam syair lagu tersebut yang dibawakan oleh  Sunu Hermaen dan Ray Shareza.

Tidak seperti bisa, mendengar lirik-lirik lagu dari kedua vokalisi ini. Kali ini, Saya seperti mendapat sebuah pesan yang menenangkan hati.

Saya pun penasaran akan keduanya, kenapa tidak, selama ini, mereka diketahui telah vakum dalam dunia musik band, yang dikenal penuh dengan hura-hura.

“Party di mana-mana tapi saya tidak bahagia. Ketiga benar-benar belajar agama, saya menemukan ketenangan batin,”ungkap Sunu, lelaki kelahiran Bandung 22 Nopember 1980.

Kegiatan di kedai tersebut juga tak lain adalah persiapan untuk Pengukuhan Kapita Halmahera Selatan yang bertajuk “ Aksi Hebat Kapita untuk Indonesia Raya”.

Bahrain Kasuba, Bupati Halmahera Selatan (Halsel) yang turut hadir dalam kegiatan tersebut pun mengungkapkan apresiasinya kepada seluruh personil Sunu, Ray,  dan Nia. Baginya, para artis ini tidak sekadar bernyayi, namun, syair-syair yang mereka lantunkan membawa ketenangan jiwa.

Dalam sambutannya, Bahrain juga menyampaikan, pada satu tahun pemerintahannya ini,  ia menyampaikan rasa terima kasihnya pada pengurus besar Kapita Halmahera Selatan yang telah menyumbangkan ide, gagasan dan, tenaga mereka untuk mendatangkan para Artis Ibu Kota tersebut.

“Saya menyampaikan rasa terima kasih yang sebesarnya pada pengurus Kapita yang telah meyumbang tenaga bahkan gagasan mereka. Selain itu, mari kita sama-sama berdoa  untuk satu tahun pemerintahan Halsel ini lebih baik lagi,” ungkap Bahrain Kasuba yang juga selaku Laksamana Kapita Halsel.

ketua Kapita Halsel Ikram M Nur pun tak tahan menahan haru. “Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ungkap Ikram.

Bagi Ikram, keberadaan Kapita di Halsel memberikan langkah positif sebagai wadah para orang muda untuk berkreasi. “Saya juga yakin, kedatangan Sunu, Ray, dan Nia berpengaruh positif sebab, mereka tidak sekadar menghibur lewat lagu namun, lantunan mereka memberikan pesan damai,” tambah Ikram.

Imanullah Muhammad, Panglima Kapita Maluku Utara menjelaskan,  KAPITA adalah singkatan dari Koalisi Pemuda Indonesia. Ia juga merupakan wadah kepemudaan, ”Bahkan, pemuda dari komunitas kreatif yang selama ini tidak terakomodir dalam wadah pemuda lainnya, mereka ada dalam Kapita,” ungkap Imanullah.
Imanullah menambahkan, agenda selanjutnya mengkonsolidasi KAPITA jangan berhenti sampai di Halsel, setelah kapita Halsel, disusul pelantikan Kapita Ternate, Halmahera Timur, Kepulauan Sula, dan Morotai yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Setelah dari acara Meet and greet, malam ini, Sunum Rey, dan Nia melantukan syair-syair mereka di panggung yang di sedikan. Ikram M Nur menambahkan, setelah acara pengukuhan Kapita Halsel,  agenda besok, pada  24 Mei 2017 dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sultan, kegiatan ini sengaja dilakukan dalam rangka menyambut bulan Suci Ramadhan. Ikram M Nur juga mengucapkan terima kasih kepada para sponsor, Laksaman KAPITA halmahera Selatan Bahrain Kasuba, Fatimah Coffee Corner, KNPI Halmahera Selatan, Pemuda Pancasila Halmahera Selatan, KAPITA Provinsi Maluku Utara dan seluruh Masyarakat Halmahera Selatan yang telah bersama-sama menyukseskan acara tersebut.

Tuesday, 30 August 2016

Sajak Tanpa Kata!!

Sajak ini
Akan saya bawakan di sini
Tapi ingat!
Satu kata sajak ribuan makna
Ingat!
Jangan bilang siapa-siapa
Satu kata ribuan makna
Oke?
Oke!
Sajak tanpa kata!!
Faris Bobero, 31 Agustus 2016