This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Kabar. Show all posts
Showing posts with label Kabar. Show all posts

Monday, 13 November 2017

Benteng Oranje dan Aksi Kreatif Orang Muda

Meski di tengah kota, kesunyian kian terasa. Lampu di tiang listrik sesekali padam, tak sampai tiga menit menyala lagi. Satu persatu orang muda mulai berkumpul. Kali ini, ruang sunyi di Benteng Oranje itu mulai ramai dipadati orang muda dari berbagai komunitas.
Hampir 40 komunitas dari berbagai alur malam itu, Senin (14/11/2017) berkumpul dalam satu wadah Jaringan Komunitas Ternate (JARKOT). Mereka membahas kesiapan aksi kreatif berbagai komunitas dalam sebuah kegiatan besar bertajuk “Pesta Komunitas Ternate” yang berpusat di Benteng Oranje pada 18 November mendatang.

Baca: Ketika Orang Muda Bergabung Menjadi JARKOT
JARKOT sendiri lahir dari sebuah kegelisahan yang pernah dihadapi hampir semua komunitas, misalnya soal ketersediaan ruang publik untuk komunitas, bahkan soal ego sektoral. Meski begitu, lahirnya JARKOT bukan menjadi satu komunitas baru untuk membawahi komunitas yang lain.
Komunitas dari berbagai alur yang tergabung yakni, pendidikan literasi, seni, sosial, budaya, konservasi, industri kreatif, dan lainnya ini sebagain besar telah banyak berbuat, meluangkan waktu dan tenaga mereka untuk hal baik.

“JARKOT adalah alat kita bersama dan pesta komunitas bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, tujuan kita adalah untuk saling membantu sesama komunitas, berbuat sesuatu yang baik untuk banyak orang, untuk daerah ini,” ungkap Zandry Aldrin, selaku kordinator  JARKOT, saat rapat bersama seluruh komunitas.

Zandry menambahkan, pada 18 November nanti, berbagai komunitas akan menampilkan kreatifitas mereka. Ada yang berbagai ilmu dengan siswa-siswa SMA, membuka lapak buku, pertunjukan musik tradisional, berbagi pemahaman konservasi, mengenal sejarah benteng Oranje, berbagi ilmu video dan photografi, bahkan ada industri kreatif.

Salah satu penggagas JARKOT Vennox mengatakan, kehadiran JARKOT merangkul komunitas-komunitas  yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Selain itu, berbagai kegiatan komunitas justeru menghidupkan ruang-ruang publik yang ada di Kota Ternate yang selama ini terlihat sepi, contohnya lokasi Benteng Oranje ini.

“kita bisa melihat Kota Ambon, peran komunitas menjadikannya kota musik. Misinya adalah perdamaian dan mereka memanfaatkan ruang publik. Begitu juga Jogja, kotanya begitu hidup karena berbagai komunitas sangat aktif,” ungkap Vennox.

ia menambahkan, bahwa target para komunitas, kegiatan ini tidak hanya dibuat setahun sekali, namun, kedepan, ada rangkain kegiatan dalam seminggu sekali dan Benteng Oranje menjadi sentral dari kegiatan-kegiatan komunitas yang bermanfat pada ruang publik.

Ia menjelaskan bahwa, kegiatan ini adalah miniatur untuk pesta komunitas yang sengaja dibuat, bebas untuk semua komunitas merencanakan kegiatan yang lebih besar di tahun 2018 nanti.
"kurang lebih 52 ivent yang akan diadakan di tahun 2018, yang diisi oleh semua komunitas kota Ternate," tambahnya.

komunitas yang akan ikut pada kegiatan akbar tahun ini, Lebih dari 30 Komunitas, tidak menutup kemungkinan, komunitas lain yang belum sempat bergabung akan turut berpartisipasi, sebab, setiap saat, panitia menerima email dari berbagai komunitas. Hanya saja, kendala saat ini adalah soal ketersedian tenda.

"kami mendata komunitas itu dilihat dari Tiga Faktor, terutama soal fisik, artinya mereka benar-benar ada, kemudian secara sosial, yaitu aktivitas mereka yang berdampak di masyarakat, berikutnya soal ekonomi, maksudnya mereka mampu menghidupkan komunitas mereka atau tidak. Dan, komunitas yang mempunyai andil terhadap banyak orang perlu diberikan penghargaan. Ini agar menambah spirit teman-teman kita dari berbagai komunitas," ujar Venox.

Sunday, 5 November 2017

Ketika Orang Muda Bergabung menjadi JARKOT

Pada 15 Oktober 2017 bukan menjadi tanggal penting. Namun di balik itu, tanggal tersebut merupakan catatan bagi sebagian orang muda daribeberapa komunitas di Kota Ternate berkumpul-bersama dan berbagi cerita akan kegiatan kreatif yang telah dilakukan. Saat itu pula, lahirlah satu wadah independen yang disebut JARKOT atau Jaringan Komunitas Ternate sebagai wadah berhimpun orang muda dari berbagai latar komunitas di Kota Ternate.

Dari masing-masing orang muda yang telah bergabung memiliki semangat yang tinggi merangkul komunitas lainnya guna menciptakan visi dan gerakan bersama. Lalu lahirlah gerakan #KitaKreatif yang dikemas dalam sebuh ivent  bertajuk “Pesta Komunitas Ternate” dimulai pada Sabtu, 18 November 2017 yang berpusat di Benteng Oranje.

Pesta Komunitas adalah salah satu ivent besar untuk merangkul orang muda di Kota Ternate menampilkan bakat bahkan berbagi ide untuk gerakan JARKOT ke depan. Saat ini, sekira 30 lebih komunitas lewat satu orang kordinator bergerak bersama dalam JARKOT. Dari komunitas tersebut ada yang bergerak pada pendidikan-literasi, blogger, seni, budaya, photograph dan videograph, pariwisata, otomotif, komunitas motor, hingga komunitas sosial lainnya.

Atas nama panitia melalui JARKOT saat ini, mendorong dan mengapresiasi para komunitas untuk selalu berkarya yang lebih baik dan semakin kreatif, sehingga para komunitas yang nanti berada dalam JARKOT dapat berperan serta membangun  Kota Ternate ini.

Zandry Aldrin, yang dipercayaai sebagai kordinator JARKOT saat ini mengatakan, melihat kondisi saat ini, masih bergerak sendiri-sendiri. Namun, ia meyakini, bahwa setiap komunitas mempunyai tujuan yang positif untuk orang banyak.

“Saat ini, kondisi komunitas masih berjalan sendiri-sendiri. Lewat wadah ini, tanpa klaim,  kita para pemuda dapat begkumpul, berkolaborasi untuk menghasilkan sesuatu yang besar dan diperjuangkan secara bersama-sama,” Ungkap Zandry.

Zandry berharap, kegiatan ini menjadi ivent tahunan yang digerakan para orang muda di Kota Ternate. Pada tahun-tahun berikut, diharapkan, salah satu dari komunitas yang ada berperan sebagai kordinator JARKOT agar wadah ini menjadi milik bersama para orang muda yang memiliki integritas.


Pesta Komunitas Ternate terbuka seluas-luasnya untuk para orang muda yang berada di mana saja, baik pemuda kampung bahkan pemuda yang berada di jajaran pemerintahan yang memiliki enerjik dan semangat  berpartisipasi melalui karya membangun Kota Ternate ini.  

Saturday, 10 June 2017

Selamat Menempuh Hidup Baru, Mustafa dan Anisa



BACAN – Pertemuan Dua keluarga mempelai Pria, Mustafa Amarullah, SH, Wartawan Aspirasi Malut dengan keluarga mempelai wanita Anisa Hasan, S.Sos akhirnya terjadi kesepakatan akat nikah pada Senin, 17 April 2017 Pukul 17.00 WIT di kediaman mempelai wanita, di Desa Mandaong, Halmahera Selatan.
 Seletah itu, acara resepsi pun akan dihelat di tempat kelahiran mempelai pria, di Pulau berpasari putih, yakni Pulau Ngele-Ngele Besar, tepatnya di  Kabupaten Pulau Morotai pada pada Sabtu, 22 April 2017 pukul 19.00 WIT.

Mustafa adalah sarjana Hukum Tata Negara dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara,  wartawan Aspirasi Malut, semasa kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selain itu, ia mengasah keterampilan menulis di  Perhimpunan Lingkar Arus Studi (PILAS). Mus, Sapaan Mustafa adalah anak ke-4 dari pasangan suami-istri Tasri Amarullah (Ayah) dan Nafsiah Juba (Ibu).

Sedangkan Anisa Hasan, buah hati dari pasangan suami-istri, Hi Hasan Sobak (Ayah) dan Sitna Hi A Rahman (Ibu). Semasa kuliah, Anisa juga aktif di PILAS dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Anisa pun lulus di Universitas yang sama dengan Mustafa, yakni universitas Muhamadiyah Maluku Utara pada jurusan Sosiologi, Fakultas FISIP.

Mustafa mengisahkan, pertemuan mereka berawal dari Kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) sejak tahun 2008. Awalnya, mereka berdua dikenalkan oleh seorang dosen, yakni Saiful Madjid.
“Saat itu, kami sedang riset pembuatan monografi desa di Desa Talaga, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera barat. Saat itulah, pak Saiful yang sudah saya anggap sebagai orang tua saya memperkenalkan saya dengan Anisa,”Mustafa Berkisah.

Mereka berdua pun saling menopang saat masa-masa sulit di bangku kuliah.
Seiring waktu, sejak lulus dari UMMU pada tahun 2012, Mustafa kembali ke kampung Halaman dan mulai berbagi ilmu yakni berprofesi sebagai guru honor di MTS Alkhairaat dan Aliyah Alkhairaat di Pulau Ngele-Ngele Besar.

Sedangkan Nisa lulus kuliah lebih awal dari Mustafa yakni pada tahun 2011. Nisa pun berkarir di Bacan, Halmahera Selatan, di sebuah diler. Bisa di kata, kedua pasangan ini, berpisah cukup lama.

Pada tahun 2014, Mustafa memulai karir jurnalistik di Surat Kabar Harian Mata Publik. Jenjangnya bisa dikatakan mulus sebab, beberapa bulan bekerja, ia langsung di tempatkan sebagai wartawan biro di Kabupaten Halmaheta Barat. Kemudian, pada tahun 2016, ia mulai berkarir lagi di Aspirasi Malut dengan posisi yang sama yakni Biro Halmahera Barat.

Meskipun mereka berdua berpisah antar pulau, hubungan mereka tetap terjalin. Mereka saling melepas rindu lewat telepon seluler. Hingga suatu saat, mereka pun memutuskan untuk hidup bersama yang ditandai dengan prosesi izab qabul.

“insha Allah, kami berdua akan membangun peradaban, yakni berumah tangga sebagai pasangan suami-istri. Kami selalu berharap, hubungan ini tetap di jalan yang diridohi Allah SWT,” ungkap Mustafa dan Nisa.

Mendengar lantunan Innallah Ma’ana dari Sunu dan Ray di Bacan






“Innallah Ma’ana, janganlah kau takut
Berlindunglah kepada Allah Yang maha Kuasa
Innallah Ma’ana, janganlah bersedih
Tersenyumlah dan sambut hari esok yang indah”

Kiranya, begitu penggalan lagu ‘Innallah Ma’ana’  yang saya dengar saat itu di Kedai Fatimah, di Labuha, Bacan, Halmahera Selatan, Selasa, 23 Mei 2017, pukul 16.30 WIT, dalam Meet and greet bersama  Sunu Hermaen, mantan Vokalis Matta Band dan Ray Shareza, yang dikenal sebagai vokalis Group Band Nineball, dan Nia Paramitha di Fatimah.

Link terkait:  Mendengar lantunan Innallah Ma’ana dari Sunu dan Ray di Bacan

Seketika, kepala saya tertunduk, mata pun berlahan terpejam. Saya ikut larut dalam syair lagu tersebut yang dibawakan oleh  Sunu Hermaen dan Ray Shareza.

Tidak seperti bisa, mendengar lirik-lirik lagu dari kedua vokalisi ini. Kali ini, Saya seperti mendapat sebuah pesan yang menenangkan hati.

Saya pun penasaran akan keduanya, kenapa tidak, selama ini, mereka diketahui telah vakum dalam dunia musik band, yang dikenal penuh dengan hura-hura.

“Party di mana-mana tapi saya tidak bahagia. Ketiga benar-benar belajar agama, saya menemukan ketenangan batin,”ungkap Sunu, lelaki kelahiran Bandung 22 Nopember 1980.

Kegiatan di kedai tersebut juga tak lain adalah persiapan untuk Pengukuhan Kapita Halmahera Selatan yang bertajuk “ Aksi Hebat Kapita untuk Indonesia Raya”.

Bahrain Kasuba, Bupati Halmahera Selatan (Halsel) yang turut hadir dalam kegiatan tersebut pun mengungkapkan apresiasinya kepada seluruh personil Sunu, Ray,  dan Nia. Baginya, para artis ini tidak sekadar bernyayi, namun, syair-syair yang mereka lantunkan membawa ketenangan jiwa.

Dalam sambutannya, Bahrain juga menyampaikan, pada satu tahun pemerintahannya ini,  ia menyampaikan rasa terima kasihnya pada pengurus besar Kapita Halmahera Selatan yang telah menyumbangkan ide, gagasan dan, tenaga mereka untuk mendatangkan para Artis Ibu Kota tersebut.

“Saya menyampaikan rasa terima kasih yang sebesarnya pada pengurus Kapita yang telah meyumbang tenaga bahkan gagasan mereka. Selain itu, mari kita sama-sama berdoa  untuk satu tahun pemerintahan Halsel ini lebih baik lagi,” ungkap Bahrain Kasuba yang juga selaku Laksamana Kapita Halsel.

ketua Kapita Halsel Ikram M Nur pun tak tahan menahan haru. “Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ungkap Ikram.

Bagi Ikram, keberadaan Kapita di Halsel memberikan langkah positif sebagai wadah para orang muda untuk berkreasi. “Saya juga yakin, kedatangan Sunu, Ray, dan Nia berpengaruh positif sebab, mereka tidak sekadar menghibur lewat lagu namun, lantunan mereka memberikan pesan damai,” tambah Ikram.

Imanullah Muhammad, Panglima Kapita Maluku Utara menjelaskan,  KAPITA adalah singkatan dari Koalisi Pemuda Indonesia. Ia juga merupakan wadah kepemudaan, ”Bahkan, pemuda dari komunitas kreatif yang selama ini tidak terakomodir dalam wadah pemuda lainnya, mereka ada dalam Kapita,” ungkap Imanullah.
Imanullah menambahkan, agenda selanjutnya mengkonsolidasi KAPITA jangan berhenti sampai di Halsel, setelah kapita Halsel, disusul pelantikan Kapita Ternate, Halmahera Timur, Kepulauan Sula, dan Morotai yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Setelah dari acara Meet and greet, malam ini, Sunum Rey, dan Nia melantukan syair-syair mereka di panggung yang di sedikan. Ikram M Nur menambahkan, setelah acara pengukuhan Kapita Halsel,  agenda besok, pada  24 Mei 2017 dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sultan, kegiatan ini sengaja dilakukan dalam rangka menyambut bulan Suci Ramadhan. Ikram M Nur juga mengucapkan terima kasih kepada para sponsor, Laksaman KAPITA halmahera Selatan Bahrain Kasuba, Fatimah Coffee Corner, KNPI Halmahera Selatan, Pemuda Pancasila Halmahera Selatan, KAPITA Provinsi Maluku Utara dan seluruh Masyarakat Halmahera Selatan yang telah bersama-sama menyukseskan acara tersebut.

Thursday, 18 February 2016

Suara Jalanan di Hari Sumpah Pemuda

SASTRA
 
Drama dan teatrikal mahasiswa FKIP Unkhair di Hotel Veliya

Kami yang kini terbaring 

Tidak bisa teriak merdeka dan angkat bicara
Mengapa kalian tidak mendengar  bicara kami
Serentak hening. Beberapa kepala para orangtua tertunduk, merenung. Di sisi lain, mata orang muda terbuka lebar, jiwa mereka seperti membara menyaksikan Komunitas Parlemen Jalanan (PAJ) menyuarahkan kondisi Indonesia lewat drama yang dibacanan di Hotel Velya, Rabu (28/10/2015) 

Hari ini, kami bicara dengan bahasa nurani kami
Jika dada rasa hampa dan waktu berputar
Kami akan mati
 
Kami sudah bicara apa yang kami mau
Tapi kalian belum bisa menerjemahkan arti kemerdekaan.

Begitulah  suara lantang yang disuarakan  dalam  drama yang berjudul “Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk”. Naskah Drama PAJ tersebut dibawakan oleh 19 mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastera Indonesia FKIP Universitas Khairun Ternate dalam kegiatan bertajuk “Aktualisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda untuk Mengutamakan, Melestarikan Bahasa Daerah dan Mempelajari Bahasa Asing”. Kegiatan diselenggarakan oleh FKIP Unkair bekerjasana dengan Kantor Bahasa Malut.

Dalam lakon drama itu mereka menunjukkan peran antagonis layaknya penguasa yang rakus dengan  korporasi yang hingga  kini masih menjajah ibu pertiwi dengan cara mengambil lebih sumber daya alam dan merusak lingkungan. 
“Drama ini merefleksikan masa perjuangan orang muda dalam kemerdekaan bahkan menggambarkan kondisi Negeri saat ini yang masih dibodohi oleh sistem dan kekuasaan yang berpihak pada pemodal saja,”kata penulis naskah drama Rafsanjani Hi Laha yang juga salah satu pengurus PAJ dan mahasiswa FKIP Unkhair. Naskah tersebut dibuat bersama Nuriman N Bayan
 
Di sela-sela kegiatan, Nuriman N Bayan memaparkan kondisi kekinian masyarakat, mulai dari kebebasan berekspresi yang dibungkam, krisis air dan bencana alam akibat dari penggarukan sumber daya alam skala masif. 

“Saat ini, kebebasan berekpresi pun dibungkam. Para pemuda, orang tua, ibu menyusui yang korban akan ketidak adilan, tidak dapat menyampaikan keluhan mereka,” ungkap Rafsanjani menjelaskan kondisi kekinian di Kota Ternate bahkan menurutnya hampir semua kasus tersebut pun terjadi di daerah-daerah di Indonesia. Di Maluku Utara, khusunya di Kota Ternate pun mengalami krisis air bersih dan hal ini berdampak pada kesehatan generasi penerus yakni pada ibu dan bayi. Sumber Air Ake Ga ale untuk masyarakat Sangaji hingga Tafure di Ternate Utara saat ini pun masih payau dan tidak layak di komsumsi. Hal itu karena pihak PDAM memperipatisasi sumber air tersebut dengan cara membuat air kemasan bermerek Ino Ake.

Belum lagi pemerintah membuat perda terkait dengan pengelolaan air bersih. Hal ini kemudian membuat para pengusaha mendapatkan air dengan gratis melalui sumur bor yang mereka buat. Sementar masyarakat berpenghasilan rendah terus membayar air dengan mahal. 

Menurut aktivis lingkungan Zulkifli Idris, krisis air dan penyebab air payau karena tidak ada Perda menyangkut pengelolaan air bersih. Hal ini membuat pihak pengusaha seperti perhotelan dan lainnya bebas memakai air secara gratis dengan cara membuat sumur bor. “Seharusnya pemerintah melihat ini dan menindak para pengusaha yang mempripatisasi air. Demikian juga seperti PDAM yang saat ini mengemas air dari Ake Ga ale,” Tegas Zulkifli. []

Catatan: 
Pernah dimuat di kabarpulau.com pada Wednesday, 28 October 2015 23:38  

Wednesday, 17 February 2016

Perjanjian Paris dan Petaka di Pulau kecil

Foto Doc Walhi Malut
TERNATE – Perjanjian Paris dalam konvensi perubahan iklim yang dihadiri Negara-negara maju pada 12 Desember 2015 kemarin, perlu ditinjau kembali. Dalam konvensi tersebut hanya mementingkan keuntungan negara kaya, tidak ada jaminan perbaikan iklim dan kesejahteraan rakyat, bahkan rakyat yang berada di pulau-pulau kecil.

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Abetnego Tarigan saat berdiskusi dengan anggota Aliansi Jurnalis Independen Kota Ternate di Rumah AJI Kota Ternate, Selasa (15/12/2015).

“Nyaris dalam perjanjian tersebut, pulau-pulau kecil tidak dibicarakan, apalagi di Maluku Utara? sayangnya kebijakan pemerintah hanya melihat pulau besar dengan jumlah populasinya. Pulau kecil diabaikan karena jumlah manusianya sedikit,” kata Abetnego.

Padahal, ancaman hilangnya pulau-pulau kecil di Maluku Utara (Malut) Nampak terlihat akibat maraknya eksploitasi sumber daya alam dan maraknya izin perusahan tambang. Kasus eksploitasi besar-besaran Pulau Gebe dan pulau Gee oleh perusahan tambang. Ditambah lagi masuknya perusahan sawit di Gane.
Direktur Walhi Malut Ismet Suleman mengatakan, ada 360 Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Malut. Dengan hal ini membuka peluang pembukaan lahan secara paksa milik warga. IUP yang tersebar di seantero wilayah Malut mengambil wilayah Malut sebesar 2.618.670 hektare. Sedangkan luas daratan Malut hanya 3.327.800 hektare.

“Sudah dua pulau kecil di Malut yang hilang. Ruang kelola rakyat hilang. Dan rakyat tidak punya akses menyuarakan ini ke pemerintah, apalagi ke pemerintah pusat. Rakyat di pulau-pulau kecil rawan akan intimidasi karena jauh dari segala akses termasuk akses komunikasi,”ungkap Ismet.

Sikap Walhi Menangapi Konvensi Perubahan Iklim 2015 di Paris
Paris, 12 Desember 2015. Konvensi Perubahan Iklim 2015 di Paris telah berakhir dengan lahirnya kesepakatan baru untuk penanganan perubahan iklim global. Meski sebelumnya, konvensi yang harusnya berakhir tanggal 11 Desember 2015, mesti diperpanjang satu hari karena sulitnya menemukan kesepakatan. Betulkah ini menjadi solusi?

“Bagi politisi, ini adalah kesepakatan yang adil dan ambisius, namun hal ini justru sebaliknya. Kesepakatan ini pasti akan gagal dan masyarakat sedang ditipu. Masyarakat terdampak dan rentan terhadap perubahan iklim mestinya mendapat hal yang lebih baik dari kesepakatan ini. Mereka yang paling merasakan dampak terburuk dari kegagalan politisi dalam mengambil tindakan,” menurut Dipti Bathnagar, Koordinator Keadilan Iklim dan energi, Friends of the Erath International dalam keterangan persnya.

Negara-negara maju telah menggeser harapan sangat jauh dan memberikan rakyat kesepakatan palsu di Paris. Melalui janji-janji dan taktik intimidasi, negara-negara maju telah mendorong sebuah kesepakatan yang sangat buruk. Negara maju, khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa mestinya melakukan membagi tanggung jawab yang adil (fair share) untuk menurunkan emisi, memberikan pendanaan dan dukungan alih tekhnologi bagi negara-negara berkembang untuk membantu mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Namun, di Paris, negara-negara kaya berupaya membongkar konvensi perubahan iklim untuk memastikan kepentingan mereka sendiri.

Kurniawan Sabar, Manajer Kampanye WALHI menegaskan, “bagi Indonesia, kesepakatan di Paris akan memberikan dampak sangat signifikan bagi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Kesepakatan iklim di Paris, tidak memberikan jaminan perubahan sistem pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, dan dengan demikian, lingkungan dan masyarakat Indonesia yang rentan dan terdampak perubahan iklim akan berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan.”kata Kurniawan.

Sikap pemerintah Indonesia yang sangat pragmatis dan tidak memainkan peran strategis dalam negosiasi di Paris, sesungguhnya telah meletakkan Indonesia sebagai negara yang hanya mengikut pada kesepakatan dan kepentingan negara maju. Pemerintah Indonesia lebih mementingkan dukungan program yang merupakan bagian dari mekanisme pasar (market mechanism) yang telah dibangun oleh Negara-negara maju dalam negosiasi di Paris.

“kita tidak bisa berharap perbaikan sistem pengelolaan sumber daya alam di Indonesia yang lebih maju, jika pengelolaan hutan, pesisir dan laut, dan energi Indonesia masih menjadi bagian dari skema pasar khususnya hanya untuk memenuhi hasrat negara maju untuk mitigasi perubahan iklim. Dukungan yang dimaksudkan pemerintah Indonesia dari kesepakatan di Paris tidak akan berarti dan tidak akan berhasil tanpa perbaikan tata kelola hutan dan gambut, pesisir dan laut, menghentikan penggunaan energi dari sumber kotor batubara, serta menghentikan kejahatan korporasi dalam pengelolaan sumber daya alam di Indonesia.” Lanjut menurut Kurniawan Sabar.  

Sebagai catatan kritis, beberapa masalah penting yang menjadi analisis group Friends of the Earth terkait kesepakatan di Paris, yakni:

Pertama, kesepakatan Paris menegaskan bahwa 2 derajat Celcius adalah tingkat maksimum kenaikan temperatur global, dan bahwa setiap negara harus meningkatkan upaya untuk membatasi peningkatan temperatur hingga batas 1,5 dearajat Celcius. Hal ini tidak akan berarti tanpa mensyaratkan negara-negara maju untuk memangkas emisi mereka secara drastis dan memberikan dukungan finansial sesuai tanggung jawab yang adil, serta memberikan beban tambahan kepada negara-negara berkembang. Untuk mencegah perubahan iklim kita mesti segera dan secara drastis menurunkan emisi, tidak melakukan penundaan.

Kedua, tanpa kompensasi untuk memperbaiki kerusakan lingkungan, negara-negara yang rentan akan menaggung berbagai masalah dan beban dari krisis yang sebenarnya bukan diciptakan oleh mereka.
Ketiga, tanpa finansial yang memadai, negara-negara miskin akan dijadikan sebagai pihak yang harus menaggung beban dari krisis yang tidak berasal dari mereka. Pendanaan tersedia, namun kemauan politik (political will) tidak ada.
Keempat, satu-satunya kewajiban yang mengikat secara hukum (legally binding) bagi negara maju adalah mereka harus melaporkan seluruh pendanaan yang mereka sediakan.
Kelima, pintu sangat terbuka bagi pasar untuk mengeksploitasi krisis iklim tanpa pembatasan secara spesifik dalam teks. Hal ini menjadi kartu bebas bagi poluter terbesar dalam sejarah. Dalam kasus REDD+ misalnya, akan menjadikan negara-negara maju mendukung proyek perkebunan yang merusak di negara-negara berkembang dan bukannya berupaya mengurangi emisi dari bahan bakar fosil di negeri mereka sendiri.

Di hari akhir negosiasi iklim di Paris, lebih dari 2.000 orang aktivis federasi Friends of the Earth International bersama ribuan masyarakat Paris melakukan aksi untuk menyampaikan pesan global untuk keadilan klim dan perdamaian (Climate Justice Peace) yang tersebar di tengah kota Paris (4). Aksi ini sebagai bagian dari gerakan masyarakat sipil yang dimobilisasi oleh Friends of the Earth International untuk menilai dan menyampaikan tuntutan masyarakat sipil untuk keadilan iklim selama proses UNFCCC COP 21 Paris.[]

Catatan:
- Pernah dimuat di kabarpulau.com edisi : Friday, 18 December 2015 05:01  

Bertahan Hidup di Tengah Krisis Air Bersih


foto doc kabarpulau.com

TERNATE – Hampir setahun warga Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara krisis air bersih. Warga tidak dapat mengonsumsi sumber air dari PDAM Kota Ternate. Untuk mendapat air bersih, warga harus membeli air galon di depot air untuk kebutuhan minum dan memasak.

Pantauan kabarpulau.com, Sejak April 2015 hingga Februari 2016, warga Kecamatan Ternate Utara yang tercatat sebagai pelanggan PDAM Kota Ternate masih menggunakan air asin atau payau sumber PDAM Kota Ternate untuk keperluan mandi. “Sejak April 2015 hingga saat ini, kami tidak dapat mengkomsumsi air bersih dari kran yang disalurkan oleh PDAM Kota Ternate karena asin. Kami terpaksa mengambil air dari sumur tetangga untuk keperluan memasak, sedangkan untuk minum, kami beli air galon di depot. Air PDAM hanya dipakai untuk mandi” ungkap Amir (53), salah satu pelanggan PDAM Kota Ternate ketika ditemui di rumahnya, di Kelurahan Tafure, Rabu (10/02/2016).

Akibat dari air yang terasa asin, kran di rumah keluarga Amir pun karatan dan mengalami kerusakan. Keluarga Amir mencatat sudah dua kali mengganti kran di rumah karena rusak.

Meskipun demikian, masyarakat tetap bertahan dan berlangganan ke PDAM Kota Ternate, mereka menggunakan air PDAM untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Namun, untuk memandikan bayi bahkan mencuci pakaian bayi, pihak keluarga Amir menggunakan air sumur milik warga sekitar. Setiap harinya, keluarga Amir harus berjalan kaki kurang lebih 20 meter untuk mengambil air sumur milik warga sekitar.
Salah satu ibu rumah tangga, Wilda (25), warga Kelurahan Akehuda, Ternate Utara juga mengatakan hal yang sama. Mereka terpaksa membeli air bersih di depot air minum unuk kebutuhan sehari-hari. “Sejak air PDAM terasa asin, kami harus mencari air galon untuk minum sehari-hari,”kata Wilda.

Nurbaya (40), warga kelurhan Dufa-Dufa Ternate Utara mengatakan, pihaknya khawatir jika menanak nasi menggunakan air PDAM karena alasan kesehatan. “Jadi, untuk menanak nasi, kami pakai air galon yang kami beli di depot air minum. Kebutuhan ekonomi semakin tinggi jika begini terus. Apalagi di sekitar sini, masyarakat tidak ada sumur, semua masih bergantung pada air PDAM, sayangnya, kami hanya menggunakan air PDAM untuk mandi,” keluh Nurbaya.

Air tidak Payau?
Direktur PDAM Kota Ternate Syaiful Djafar ketika ditemui di kantor PDAM Kota Ternate pada Senin (28/12/2015) sempat mengelak dan mengatakan bahwa air dari PDAM tidak asin atau payau.
“Tidak ada yang bisa bilang salobar (payau). Tawar!  Tiap hari orang ambil air wuduh di masjid samping PDAM Kota Ternate,” kata Syaiful.

Meskipun demikian, Syaiful mengaku telah terjadi intrusi air laut di sumber air Ake Gaale di PDAM Kota Ternate. Tak hanya itu, ia pun mengatakan bahwa ada eksploitasi berlebihan di sumber air Ake Gaale.
“Pertama, kita mengeksplorasi atau kita eksploitasi melebihi daya dukung yang ada. Anggaplah di sini, para ahli bilang bahwa, di sini hanya bisa di ambil kurang lebih 80 liter perdetik, pada saat kejadian itu, kita sudah ambil 120 liter perdetik, sudah melebihi separuh dari daya dukung yang ada. Dari 80 liter kita sudah ambil 120 liter,”ungkapnya.

Pada 2015, kondisi ini sempat menimbulkan reaksi di masyarakat. Masyarakat kelurahan Akehuda, Dufa-Dufa, dan Kelurahan Sangaji melakukan aksi di Kantor PDAM Kota Ternate.
Selain itu, masyarakat Kelurahan Sangaji yang berdekatan dengan Kantor PDAM Kota Ternate pun mengeluhkan kondisi air sumur mereka yang asin. Hal ini dibenarkan Syaiful. “Memang air sumur mereka asin. Betul-betul asin,”ungkapnya.  

Pihak PDAM Kota Ternate pun mengambil langkah pemasangan air PDAM gratis untuk 54 rumah tangga yang mengeluhkan air sumur menjadi asin. 

Syaiful mengatakan, beberapa masyarakat yang terlibat aksi, menyampaikan bahwa, selama sumber air masih terasa asin, mereka tidak akan membayar ke PDAM. Kejadian ini pun langsung mendapat respon dari Pemerintah Kota Ternate.

“Waktu demo, pak walikota datang dan bicarakan kasih kompensasi ke masyarakat mulai Januari sampai dengan April 2015 kalau tidak salah. Jadi mereka punya air yang sudah muncul di rekening, PDAM bayar. Jadi sudah bentuk piutang. DPAM bayar kuranglebih ada 30-40 juta untuk tutupi rekening itu,”katanya. Hingga sekarang, masih ada sebagian masyarakat yang tidak membayar.

“Lalu kemudian masalah itu berlalu. Kemudian sekarang ini, mereka ada galang aksi tidak bayar sampai sekarang. kami (PDAM) belum ada reaksi apa-apa. Memang ada yang punya kesadaran dan bayar. Jadi ada yang sampai sekarang tidak bayar,”tambahnya.

Mencari Solusi
Akibat dari itu, Syaiful berjanji, pihaknya akan memperbaiki kondisi air yang dirasakan masyarakat Kecamatan Ternate Utara. Ia mengatakan, tidak ada jalan lain untuk perbaikan sumber air Ake Gaale selain memindahkan lokasi sumber air. 

“Jadi jalan satu-satunya memindahkan lokasi sumber air yang terlalu dekat dengan air laut. Jadi, sekarang ada sumur bor yang dilakukan di Kelurahan Facei, di ketinggian 80 meter. Di situ ada dua sumur bor yang dibuat di sana. Ya jadi kalau satu sumur bor bisa dapat 10-20 liter,” kata Syaiful.

Menurutnya, pengerjaan sumur bor di Kelurahan Facei akan berakhir pada Desember 2015. “Jadi, jika sudah selesai, satu-dua bulan sudah bisa operasi,” katanya. Namun, hingga sekarang, memasuki Februari 2016, masyarakat masih mengeluhkan air bersih.[]

-Pernah dimuat di kabarpulau.com pada 11 Februari 2016
http://kabarpulau.com/2015-06-30-17-12-58/kabar-kota-pulau/item/247-bertahan-hidup-di-tengah-krisis-air-bersih