This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, 10 June 2017

Senja di Batas Batu

Senja sudah turun di Mumugu Batas Batu, Asmat. Anton (6), Steven (5) dan Ema (5) tiba di rumah. Biasanya mereka pulang sekolah dengan riang, walau harus berjalan kaki selama satu jam. Kali ini, justru rona duka memancar di wajah ketiga bocah Papua.

Saat itu, Falentina (52) sedang menunggu Anton, Steven, dan Ema. Beliau sedang memasak makanan untuk mereka bertiga. ”Cucu nenek sudah datang, ayo makan,”ujar Falentina, nenek angkat ketiga murid sekolah yang baru pualang itu. 

Anton, Steven, dan Ema hanya diam, terpaku sedih. Anton bahkan mengambil kain untuk mengikat kepala, seakan tertekan dengan pikiran beratnya. Steven duduk di pojok dinding rumah sambil merangkul kedua lututnya, dengan suara merintih. Ia menahan isak tangis sementara  Ema berdiri di pintu dapur, juga tak dapat menahan tangis. ”Kalian kenapa?  cucu nenek ini sedang dilanda apa?,” Tanya Falentina keheranan.
”Nenek, kita sudah kelas dua SD tapi pak guru turunkan kita di TK (Taman Kanak-kanak) lagi,” kata Ema terseduh-seduh. 

Hari itu mereka bertiga bahkan tak selera makan. Sampai malam harinya, Falentina dan Suaminya, Suabra (56) harus memaksa mereka bertiga makan.
Anton, Steven, dan Ema adalah anak-anak dari distrik Sawaerwa, desa tetangga Mumugu Batas Batu, Asmat yang jaraknya menempuh tiga jam perjalanan sungai menggunakan speed boat dari kampung Mumugu Batas Batu, tempat mereka tinggal. Suabra yang juga sebagai Penasehat Suku di Mumugu Batas Batu itu mengambil mereka dengan harapan untuk bersekolah. 

Suabra mengisahkan, pada tahun 80-an, orangtua/ayah Anton dan Steven pernah bekerja sebagai motoris speed boat penumpang namun kedua orangtua mereka meninggal dunia. ”Harapan orangtua Anton dan Steven, anak mereka tidak lagi hidup susah. sedangkan orangtua Ema berharap, Ema bisa sekolah dan mempunyai cita-cita,” kata Suabra, matanya terlihat berkaca-kaca saat mengisahkan perjuangan orangtua ketiga anak itu ketika ditemui Guru SOKOLA di Rumahnya. 

Selama tinggal bersama Suabra dan Falentina, Anton dan Steven bercita-cita menjadi Polisi Lalulintas sedangkan Ema bercita-cita menjadi guru. Cita-cita tersebut pernah mereka sampaikan ke Khusnul Wahyu (30) guru SOKOLA yang mengajari mereka bertiga baca tulis.

Semenjak kejadian  mereka pulang belajar itu, mereka tidak lagi belajar selama seminggu. Khusnul pernah menunggu tiga muridnya itu mulai pagi sampai sore hari namun ketiganya tidak kunjung datang. Akhirnya, Khusnul bersama Habibi Hibbu (30),  dan saya bersepakat berkunjung ke rumah Suabra untuk mengetahui keberadaan mereka. 

Sesampai di rumah Suabra, barulah kita ketahui pokok masalah. Bukan guru yang menyuruh mereka bertiga pindah di kelompok bermain pada program Literasi Sokola Rimba, Papua. 

Waktu itu karena Habibi mengidap malaria jadi tidak mengajar untuk kelas baca-tulis dikte dan Khusnul yang mengambil alih mengajar di kelompok muridnya Habibi, sedangkan saya mengajar di kelompok murid baca dua suku kata. Karena banyak murid yang digabung hari itu, berkisar 90 lebih anak. Anton, Steven, dan Ema diajak oleh murid yang lain ke kelompok bermain. 

Setelah disampaikan ke Suabra bahwa ketiga murid tersebut tidak di turunkan kelas baru, ketiga murid tersebut mengerti dan mau belajar lagi.

Memberikan Contoh
Suabra, kakek angkat Anton, Steven, dan Ema, selalu memberikan contoh hidup mandiri belajar berkebun dan berternak. Tidak hanya itu, Suabra juga selalu memberikan contoh kepada masyarakat sekitar untuk membuat kebun dan berternak hewan seperti ayam, bebek, dan babi. Sebab, menurutnya, hampir sebagian besar masyarakat di Batas Batu hidup meramu, berburu, dan mencari ikan di sungai. Mereka sangat bergantung dengan alam namun tidak berkebun,” alam ini seakan memanjakan masyarakat di sini. hasil buruan hari ini dimakan habis, besok berburu lagi,” kata Suabra, pensiunan Polisi itu.

Meskipun masyarakat masih bisa mencari makan di hutan mereka namun, minimnya pendidikan formal menjadi suatu kekhawatiran akan masa depan anak-anak,”Sayangnya masyarakat Mumugu minim akan pendidikan formal yang tidak tersedia. Masyarakat di sini belum berpikir akan perubahan yang akan datang, padahal daerah ini sudah mulai banyak pendatang seperti pedagang, pemburu kayu gaharu, dan para kontraktor membuat jalan,” katanya.

Fasilitas Pendidikan   
Persoalan lain di Mumugu Batas Batu, belum adanya guru dari pemerintah yang betul-betul ingin mengabdikan diri. Menurut masyarakat setempat, ada beberapa guru pernah datang bertugas di Mumugu Batas Batu dengan fasilitas tempat tinggal dan sekolah yang tersedia. Namun tidak mengajar secara serius
 ”Dulu ada guru datang ke sini, mengajar Cuma dua hari habis itu pulang tidak balik kesini lagi, habis itu ada yang datang lagi, karena cuma datang sebentar saja, masyarakat di sini pernah usir guru,” kata Kepala Suku Daniel Menja ketika di temui guru SOKOLA di Jew/Rumah Bujang. 

Para guru tersebut hanya datang paling lama satu minggu bahkan hanya dua hari setelah itu tidak mengajar lagi. Hal itu berlangsung lama, hingga mengakibatkan anak-anak di Mumugu Batas Batu, masih buta aksara hingga kini gedung sekolah terbiarkan kosong.

”Kalau guru datang hanya dua hari atau dua minggu, lebih baik tidak usah datang lagi,” ujar Kepala Suku. 
Beberapa anak-anak seperti Yosepa Toraisop, Sempa Puih, Daniel Aribok, dan Natalis pernah bersekolah di Sekolah Tinggkat Dasar di Pusat Distrik Sawaerma. Namun karena alasan jarak sekolah yang jauh bahkan sering mendapat kekerasan dari guru, anak-anak ini memilih tidak bersekolah lagi.

Sempa sempat bercerita bahwa ayahnya putus asa dan menyarankan Sempa tidak harus pergi sekolah di Sawaerma karena ayahnya sudah tua dan tidak mampu berburu, mecari makanan secukupnya, ”Bapak saya dengar dari Keuskupan Agast bahwa nanti ada guru SOKOLA RIMBA ke sini jadi saya belajar di sini saja,” kata Sempa Puih.

Selain itu Yosepa Toraisop, yang juga pernah sekolah di Sawaerma itu mengatakan, masih ingin melanjutkan sekolah hingga dapat mengejar cita-cita menjadi guru untuk ia dapat mengajar anak-anak kecil di Mumugu, ”Tapi saya takut masuk sekolah di Sawaerma, ada satu guru jahat sekali, saya dan teman-teman  sering dipukul pakai kayu besar kalau kita bermain,” kata Yosepa.

  
Peran SOKOLA RIMBA
Keberadaan Guru SOKOLA yang bekerjasama dengan Keuskupan Agats, Asmat bisa dikatakan melahirkan harapan baru bagi anak-anak Mumugu Batas Batu yang banyak menggantungkan harapan dan cita-cita nantinya dengan proses pendidikan sekolah formal. 

Program Literasi SOKOLA Papua di Mumugu Batas Batu selama enam bulan namun, baru memasuki tiga bulan proses belajar-mengajar SOKOLA, perkembangan pengetahuan murid sudah sangat terlihat, sudah dapat membaca, menulis cerita/mengarang, berhitung-perkalian, dan pembagian angka.
Perkembangan anak-anak ini menjadi kabar baik di kampung tetangga, Mumugu bawa, Sawaerma maupun di Kabupaten Agats. Anak-anak dari desa Sawaerma dan Mumugu Bawa bahkan ada yang datang ke Mumugu Batas Batu, mereka meminta untuk diajarkan baca tulis oleh Guru SOKOLA.

Dalam proses mengajar, anak-anak murid SOKOLA dibagi dalam empat kelompok, pertama, kelompak bermain untuk tingkat anak di bawah umur 6 tahun, kelompok kedua, anak-anak umur 6 tahun ke atas dengan proses pengenalan huruf alphabet. Kelompok ketiga terdiri dari dua kelas, para murid yang sudah dapat membaca dua sampai tiga suku kata dan empat suku kata kelas sendiri. Kelompok ke empat, para murid yang sudah sampai di tinggkat belajar dikte, berhitung, perkalian, dan pembagian angka.

Proses belajar pun tidak mengenal ruang kelas, para murid lebih suka di ruang terbuka-belajar sambil bermain di seberang sungai, dan di hutan saat mencari makanan.

Melihat perkembangan anak-anak, para orangtua pun ikut semangat menginginkan anak-anak mereka bisa melanjutkan pendidikan sekolah, menyelesaikan pendidikan di bangku SMA bahkan ada orangtua yang menginginkan anak-anak mereka menjadi guru, perawat, dan mantri supaya bisa membantu masyarakat Mumugu Batas Batu yang 90 persen mengidap penyakit kusta.  

”Air mata saya sempat menetes, melihat beberapa orangtua sehabis bekerja angkat barang pedatang di pelabuhan kecil, mereka langsung menuju kios  belanja buku tulis untuk anak-anak belajar,” ungkap Suabra.


Selamat Menempuh Hidup Baru, Mustafa dan Anisa



BACAN – Pertemuan Dua keluarga mempelai Pria, Mustafa Amarullah, SH, Wartawan Aspirasi Malut dengan keluarga mempelai wanita Anisa Hasan, S.Sos akhirnya terjadi kesepakatan akat nikah pada Senin, 17 April 2017 Pukul 17.00 WIT di kediaman mempelai wanita, di Desa Mandaong, Halmahera Selatan.
 Seletah itu, acara resepsi pun akan dihelat di tempat kelahiran mempelai pria, di Pulau berpasari putih, yakni Pulau Ngele-Ngele Besar, tepatnya di  Kabupaten Pulau Morotai pada pada Sabtu, 22 April 2017 pukul 19.00 WIT.

Mustafa adalah sarjana Hukum Tata Negara dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara,  wartawan Aspirasi Malut, semasa kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selain itu, ia mengasah keterampilan menulis di  Perhimpunan Lingkar Arus Studi (PILAS). Mus, Sapaan Mustafa adalah anak ke-4 dari pasangan suami-istri Tasri Amarullah (Ayah) dan Nafsiah Juba (Ibu).

Sedangkan Anisa Hasan, buah hati dari pasangan suami-istri, Hi Hasan Sobak (Ayah) dan Sitna Hi A Rahman (Ibu). Semasa kuliah, Anisa juga aktif di PILAS dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Anisa pun lulus di Universitas yang sama dengan Mustafa, yakni universitas Muhamadiyah Maluku Utara pada jurusan Sosiologi, Fakultas FISIP.

Mustafa mengisahkan, pertemuan mereka berawal dari Kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) sejak tahun 2008. Awalnya, mereka berdua dikenalkan oleh seorang dosen, yakni Saiful Madjid.
“Saat itu, kami sedang riset pembuatan monografi desa di Desa Talaga, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera barat. Saat itulah, pak Saiful yang sudah saya anggap sebagai orang tua saya memperkenalkan saya dengan Anisa,”Mustafa Berkisah.

Mereka berdua pun saling menopang saat masa-masa sulit di bangku kuliah.
Seiring waktu, sejak lulus dari UMMU pada tahun 2012, Mustafa kembali ke kampung Halaman dan mulai berbagi ilmu yakni berprofesi sebagai guru honor di MTS Alkhairaat dan Aliyah Alkhairaat di Pulau Ngele-Ngele Besar.

Sedangkan Nisa lulus kuliah lebih awal dari Mustafa yakni pada tahun 2011. Nisa pun berkarir di Bacan, Halmahera Selatan, di sebuah diler. Bisa di kata, kedua pasangan ini, berpisah cukup lama.

Pada tahun 2014, Mustafa memulai karir jurnalistik di Surat Kabar Harian Mata Publik. Jenjangnya bisa dikatakan mulus sebab, beberapa bulan bekerja, ia langsung di tempatkan sebagai wartawan biro di Kabupaten Halmaheta Barat. Kemudian, pada tahun 2016, ia mulai berkarir lagi di Aspirasi Malut dengan posisi yang sama yakni Biro Halmahera Barat.

Meskipun mereka berdua berpisah antar pulau, hubungan mereka tetap terjalin. Mereka saling melepas rindu lewat telepon seluler. Hingga suatu saat, mereka pun memutuskan untuk hidup bersama yang ditandai dengan prosesi izab qabul.

“insha Allah, kami berdua akan membangun peradaban, yakni berumah tangga sebagai pasangan suami-istri. Kami selalu berharap, hubungan ini tetap di jalan yang diridohi Allah SWT,” ungkap Mustafa dan Nisa.

Bukan lagi Sebuah Kesepian

Kita telah menjadi satu
Dan aku tak lagi menjadi angin
Lalu hidup bukan lagi sebuah kesepian
Ketika jarak mengundang rindu
Mantera menjelma dirimu
Dan aku takperlu lagi menjadi angin
Menjagamu dari segala air mata.

Tobelo, 02 Mey 2017

Mendengar lantunan Innallah Ma’ana dari Sunu dan Ray di Bacan






“Innallah Ma’ana, janganlah kau takut
Berlindunglah kepada Allah Yang maha Kuasa
Innallah Ma’ana, janganlah bersedih
Tersenyumlah dan sambut hari esok yang indah”

Kiranya, begitu penggalan lagu ‘Innallah Ma’ana’  yang saya dengar saat itu di Kedai Fatimah, di Labuha, Bacan, Halmahera Selatan, Selasa, 23 Mei 2017, pukul 16.30 WIT, dalam Meet and greet bersama  Sunu Hermaen, mantan Vokalis Matta Band dan Ray Shareza, yang dikenal sebagai vokalis Group Band Nineball, dan Nia Paramitha di Fatimah.

Link terkait:  Mendengar lantunan Innallah Ma’ana dari Sunu dan Ray di Bacan

Seketika, kepala saya tertunduk, mata pun berlahan terpejam. Saya ikut larut dalam syair lagu tersebut yang dibawakan oleh  Sunu Hermaen dan Ray Shareza.

Tidak seperti bisa, mendengar lirik-lirik lagu dari kedua vokalisi ini. Kali ini, Saya seperti mendapat sebuah pesan yang menenangkan hati.

Saya pun penasaran akan keduanya, kenapa tidak, selama ini, mereka diketahui telah vakum dalam dunia musik band, yang dikenal penuh dengan hura-hura.

“Party di mana-mana tapi saya tidak bahagia. Ketiga benar-benar belajar agama, saya menemukan ketenangan batin,”ungkap Sunu, lelaki kelahiran Bandung 22 Nopember 1980.

Kegiatan di kedai tersebut juga tak lain adalah persiapan untuk Pengukuhan Kapita Halmahera Selatan yang bertajuk “ Aksi Hebat Kapita untuk Indonesia Raya”.

Bahrain Kasuba, Bupati Halmahera Selatan (Halsel) yang turut hadir dalam kegiatan tersebut pun mengungkapkan apresiasinya kepada seluruh personil Sunu, Ray,  dan Nia. Baginya, para artis ini tidak sekadar bernyayi, namun, syair-syair yang mereka lantunkan membawa ketenangan jiwa.

Dalam sambutannya, Bahrain juga menyampaikan, pada satu tahun pemerintahannya ini,  ia menyampaikan rasa terima kasihnya pada pengurus besar Kapita Halmahera Selatan yang telah menyumbangkan ide, gagasan dan, tenaga mereka untuk mendatangkan para Artis Ibu Kota tersebut.

“Saya menyampaikan rasa terima kasih yang sebesarnya pada pengurus Kapita yang telah meyumbang tenaga bahkan gagasan mereka. Selain itu, mari kita sama-sama berdoa  untuk satu tahun pemerintahan Halsel ini lebih baik lagi,” ungkap Bahrain Kasuba yang juga selaku Laksamana Kapita Halsel.

ketua Kapita Halsel Ikram M Nur pun tak tahan menahan haru. “Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ungkap Ikram.

Bagi Ikram, keberadaan Kapita di Halsel memberikan langkah positif sebagai wadah para orang muda untuk berkreasi. “Saya juga yakin, kedatangan Sunu, Ray, dan Nia berpengaruh positif sebab, mereka tidak sekadar menghibur lewat lagu namun, lantunan mereka memberikan pesan damai,” tambah Ikram.

Imanullah Muhammad, Panglima Kapita Maluku Utara menjelaskan,  KAPITA adalah singkatan dari Koalisi Pemuda Indonesia. Ia juga merupakan wadah kepemudaan, ”Bahkan, pemuda dari komunitas kreatif yang selama ini tidak terakomodir dalam wadah pemuda lainnya, mereka ada dalam Kapita,” ungkap Imanullah.
Imanullah menambahkan, agenda selanjutnya mengkonsolidasi KAPITA jangan berhenti sampai di Halsel, setelah kapita Halsel, disusul pelantikan Kapita Ternate, Halmahera Timur, Kepulauan Sula, dan Morotai yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Setelah dari acara Meet and greet, malam ini, Sunum Rey, dan Nia melantukan syair-syair mereka di panggung yang di sedikan. Ikram M Nur menambahkan, setelah acara pengukuhan Kapita Halsel,  agenda besok, pada  24 Mei 2017 dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sultan, kegiatan ini sengaja dilakukan dalam rangka menyambut bulan Suci Ramadhan. Ikram M Nur juga mengucapkan terima kasih kepada para sponsor, Laksaman KAPITA halmahera Selatan Bahrain Kasuba, Fatimah Coffee Corner, KNPI Halmahera Selatan, Pemuda Pancasila Halmahera Selatan, KAPITA Provinsi Maluku Utara dan seluruh Masyarakat Halmahera Selatan yang telah bersama-sama menyukseskan acara tersebut.