![]() |
| Drama dan teatrikal mahasiswa FKIP Unkhair di Hotel Veliya |
Kami yang kini terbaring
Tidak bisa teriak merdeka dan angkat bicara
Mengapa kalian tidak mendengar bicara kami
Mengapa kalian tidak mendengar bicara kami
Serentak
hening. Beberapa kepala para orangtua tertunduk, merenung. Di sisi
lain, mata orang muda terbuka lebar, jiwa mereka seperti membara
menyaksikan Komunitas Parlemen Jalanan (PAJ) menyuarahkan kondisi
Indonesia lewat drama yang dibacanan di Hotel Velya, Rabu (28/10/2015)
Hari ini, kami bicara dengan bahasa nurani kami
Jika dada rasa hampa dan waktu berputar
Kami akan mati
Jika dada rasa hampa dan waktu berputar
Kami akan mati
Kami sudah bicara apa yang kami mau
Tapi kalian belum bisa menerjemahkan arti kemerdekaan.
Begitulah suara lantang yang disuarakan dalam drama
yang berjudul “Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk”. Naskah Drama PAJ
tersebut dibawakan oleh 19 mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastera
Indonesia FKIP Universitas Khairun Ternate dalam kegiatan bertajuk
“Aktualisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda untuk Mengutamakan, Melestarikan
Bahasa Daerah dan Mempelajari Bahasa Asing”. Kegiatan diselenggarakan
oleh FKIP Unkair bekerjasana dengan Kantor Bahasa Malut.
Dalam lakon drama itu mereka menunjukkan peran antagonis layaknya penguasa yang rakus dengan korporasi yang hingga kini masih menjajah ibu pertiwi dengan cara mengambil lebih sumber daya alam dan merusak lingkungan.
“Drama
ini merefleksikan masa perjuangan orang muda dalam kemerdekaan bahkan
menggambarkan kondisi Negeri saat ini yang masih dibodohi oleh sistem
dan kekuasaan yang berpihak pada pemodal saja,”kata penulis naskah drama
Rafsanjani Hi Laha yang juga salah satu pengurus PAJ dan mahasiswa FKIP
Unkhair. Naskah tersebut dibuat bersama Nuriman N Bayan
Di
sela-sela kegiatan, Nuriman N Bayan memaparkan kondisi kekinian
masyarakat, mulai dari kebebasan berekspresi yang dibungkam, krisis air
dan bencana alam akibat dari penggarukan sumber daya alam skala masif.
“Saat
ini, kebebasan berekpresi pun dibungkam. Para pemuda, orang tua, ibu
menyusui yang korban akan ketidak adilan, tidak dapat menyampaikan
keluhan mereka,” ungkap Rafsanjani menjelaskan kondisi kekinian di Kota
Ternate bahkan menurutnya hampir semua kasus tersebut pun terjadi di
daerah-daerah di Indonesia. Di Maluku Utara, khusunya di Kota Ternate
pun mengalami krisis air bersih dan hal ini berdampak pada kesehatan
generasi penerus yakni pada ibu dan bayi. Sumber Air Ake Ga ale untuk
masyarakat Sangaji hingga Tafure di Ternate Utara saat ini pun masih
payau dan tidak layak di komsumsi. Hal itu karena pihak PDAM
memperipatisasi sumber air tersebut dengan cara membuat air kemasan
bermerek Ino Ake.
Belum
lagi pemerintah membuat perda terkait dengan pengelolaan air bersih.
Hal ini kemudian membuat para pengusaha mendapatkan air dengan gratis
melalui sumur bor yang mereka buat. Sementar masyarakat berpenghasilan
rendah terus membayar air dengan mahal.
Menurut
aktivis lingkungan Zulkifli Idris, krisis air dan penyebab air payau
karena tidak ada Perda menyangkut pengelolaan air bersih. Hal ini
membuat pihak pengusaha seperti perhotelan dan lainnya bebas memakai air
secara gratis dengan cara membuat sumur bor. “Seharusnya pemerintah
melihat ini dan menindak para pengusaha yang mempripatisasi air.
Demikian juga seperti PDAM yang saat ini mengemas air dari Ake Ga ale,”
Tegas Zulkifli. []
Catatan:
Pernah dimuat di kabarpulau.com pada Wednesday, 28 October 2015 23:38







0 comments:
Post a Comment