Thursday, 18 February 2016

Suara Jalanan di Hari Sumpah Pemuda

SASTRA
 
Drama dan teatrikal mahasiswa FKIP Unkhair di Hotel Veliya

Kami yang kini terbaring 

Tidak bisa teriak merdeka dan angkat bicara
Mengapa kalian tidak mendengar  bicara kami
Serentak hening. Beberapa kepala para orangtua tertunduk, merenung. Di sisi lain, mata orang muda terbuka lebar, jiwa mereka seperti membara menyaksikan Komunitas Parlemen Jalanan (PAJ) menyuarahkan kondisi Indonesia lewat drama yang dibacanan di Hotel Velya, Rabu (28/10/2015) 

Hari ini, kami bicara dengan bahasa nurani kami
Jika dada rasa hampa dan waktu berputar
Kami akan mati
 
Kami sudah bicara apa yang kami mau
Tapi kalian belum bisa menerjemahkan arti kemerdekaan.

Begitulah  suara lantang yang disuarakan  dalam  drama yang berjudul “Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk”. Naskah Drama PAJ tersebut dibawakan oleh 19 mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastera Indonesia FKIP Universitas Khairun Ternate dalam kegiatan bertajuk “Aktualisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda untuk Mengutamakan, Melestarikan Bahasa Daerah dan Mempelajari Bahasa Asing”. Kegiatan diselenggarakan oleh FKIP Unkair bekerjasana dengan Kantor Bahasa Malut.

Dalam lakon drama itu mereka menunjukkan peran antagonis layaknya penguasa yang rakus dengan  korporasi yang hingga  kini masih menjajah ibu pertiwi dengan cara mengambil lebih sumber daya alam dan merusak lingkungan. 
“Drama ini merefleksikan masa perjuangan orang muda dalam kemerdekaan bahkan menggambarkan kondisi Negeri saat ini yang masih dibodohi oleh sistem dan kekuasaan yang berpihak pada pemodal saja,”kata penulis naskah drama Rafsanjani Hi Laha yang juga salah satu pengurus PAJ dan mahasiswa FKIP Unkhair. Naskah tersebut dibuat bersama Nuriman N Bayan
 
Di sela-sela kegiatan, Nuriman N Bayan memaparkan kondisi kekinian masyarakat, mulai dari kebebasan berekspresi yang dibungkam, krisis air dan bencana alam akibat dari penggarukan sumber daya alam skala masif. 

“Saat ini, kebebasan berekpresi pun dibungkam. Para pemuda, orang tua, ibu menyusui yang korban akan ketidak adilan, tidak dapat menyampaikan keluhan mereka,” ungkap Rafsanjani menjelaskan kondisi kekinian di Kota Ternate bahkan menurutnya hampir semua kasus tersebut pun terjadi di daerah-daerah di Indonesia. Di Maluku Utara, khusunya di Kota Ternate pun mengalami krisis air bersih dan hal ini berdampak pada kesehatan generasi penerus yakni pada ibu dan bayi. Sumber Air Ake Ga ale untuk masyarakat Sangaji hingga Tafure di Ternate Utara saat ini pun masih payau dan tidak layak di komsumsi. Hal itu karena pihak PDAM memperipatisasi sumber air tersebut dengan cara membuat air kemasan bermerek Ino Ake.

Belum lagi pemerintah membuat perda terkait dengan pengelolaan air bersih. Hal ini kemudian membuat para pengusaha mendapatkan air dengan gratis melalui sumur bor yang mereka buat. Sementar masyarakat berpenghasilan rendah terus membayar air dengan mahal. 

Menurut aktivis lingkungan Zulkifli Idris, krisis air dan penyebab air payau karena tidak ada Perda menyangkut pengelolaan air bersih. Hal ini membuat pihak pengusaha seperti perhotelan dan lainnya bebas memakai air secara gratis dengan cara membuat sumur bor. “Seharusnya pemerintah melihat ini dan menindak para pengusaha yang mempripatisasi air. Demikian juga seperti PDAM yang saat ini mengemas air dari Ake Ga ale,” Tegas Zulkifli. []

Catatan: 
Pernah dimuat di kabarpulau.com pada Wednesday, 28 October 2015 23:38  

0 comments:

Post a Comment