This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Jelajah. Show all posts
Showing posts with label Jelajah. Show all posts

Saturday, 10 June 2017

Senja di Batas Batu

Senja sudah turun di Mumugu Batas Batu, Asmat. Anton (6), Steven (5) dan Ema (5) tiba di rumah. Biasanya mereka pulang sekolah dengan riang, walau harus berjalan kaki selama satu jam. Kali ini, justru rona duka memancar di wajah ketiga bocah Papua.

Saat itu, Falentina (52) sedang menunggu Anton, Steven, dan Ema. Beliau sedang memasak makanan untuk mereka bertiga. ”Cucu nenek sudah datang, ayo makan,”ujar Falentina, nenek angkat ketiga murid sekolah yang baru pualang itu. 

Anton, Steven, dan Ema hanya diam, terpaku sedih. Anton bahkan mengambil kain untuk mengikat kepala, seakan tertekan dengan pikiran beratnya. Steven duduk di pojok dinding rumah sambil merangkul kedua lututnya, dengan suara merintih. Ia menahan isak tangis sementara  Ema berdiri di pintu dapur, juga tak dapat menahan tangis. ”Kalian kenapa?  cucu nenek ini sedang dilanda apa?,” Tanya Falentina keheranan.
”Nenek, kita sudah kelas dua SD tapi pak guru turunkan kita di TK (Taman Kanak-kanak) lagi,” kata Ema terseduh-seduh. 

Hari itu mereka bertiga bahkan tak selera makan. Sampai malam harinya, Falentina dan Suaminya, Suabra (56) harus memaksa mereka bertiga makan.
Anton, Steven, dan Ema adalah anak-anak dari distrik Sawaerwa, desa tetangga Mumugu Batas Batu, Asmat yang jaraknya menempuh tiga jam perjalanan sungai menggunakan speed boat dari kampung Mumugu Batas Batu, tempat mereka tinggal. Suabra yang juga sebagai Penasehat Suku di Mumugu Batas Batu itu mengambil mereka dengan harapan untuk bersekolah. 

Suabra mengisahkan, pada tahun 80-an, orangtua/ayah Anton dan Steven pernah bekerja sebagai motoris speed boat penumpang namun kedua orangtua mereka meninggal dunia. ”Harapan orangtua Anton dan Steven, anak mereka tidak lagi hidup susah. sedangkan orangtua Ema berharap, Ema bisa sekolah dan mempunyai cita-cita,” kata Suabra, matanya terlihat berkaca-kaca saat mengisahkan perjuangan orangtua ketiga anak itu ketika ditemui Guru SOKOLA di Rumahnya. 

Selama tinggal bersama Suabra dan Falentina, Anton dan Steven bercita-cita menjadi Polisi Lalulintas sedangkan Ema bercita-cita menjadi guru. Cita-cita tersebut pernah mereka sampaikan ke Khusnul Wahyu (30) guru SOKOLA yang mengajari mereka bertiga baca tulis.

Semenjak kejadian  mereka pulang belajar itu, mereka tidak lagi belajar selama seminggu. Khusnul pernah menunggu tiga muridnya itu mulai pagi sampai sore hari namun ketiganya tidak kunjung datang. Akhirnya, Khusnul bersama Habibi Hibbu (30),  dan saya bersepakat berkunjung ke rumah Suabra untuk mengetahui keberadaan mereka. 

Sesampai di rumah Suabra, barulah kita ketahui pokok masalah. Bukan guru yang menyuruh mereka bertiga pindah di kelompok bermain pada program Literasi Sokola Rimba, Papua. 

Waktu itu karena Habibi mengidap malaria jadi tidak mengajar untuk kelas baca-tulis dikte dan Khusnul yang mengambil alih mengajar di kelompok muridnya Habibi, sedangkan saya mengajar di kelompok murid baca dua suku kata. Karena banyak murid yang digabung hari itu, berkisar 90 lebih anak. Anton, Steven, dan Ema diajak oleh murid yang lain ke kelompok bermain. 

Setelah disampaikan ke Suabra bahwa ketiga murid tersebut tidak di turunkan kelas baru, ketiga murid tersebut mengerti dan mau belajar lagi.

Memberikan Contoh
Suabra, kakek angkat Anton, Steven, dan Ema, selalu memberikan contoh hidup mandiri belajar berkebun dan berternak. Tidak hanya itu, Suabra juga selalu memberikan contoh kepada masyarakat sekitar untuk membuat kebun dan berternak hewan seperti ayam, bebek, dan babi. Sebab, menurutnya, hampir sebagian besar masyarakat di Batas Batu hidup meramu, berburu, dan mencari ikan di sungai. Mereka sangat bergantung dengan alam namun tidak berkebun,” alam ini seakan memanjakan masyarakat di sini. hasil buruan hari ini dimakan habis, besok berburu lagi,” kata Suabra, pensiunan Polisi itu.

Meskipun masyarakat masih bisa mencari makan di hutan mereka namun, minimnya pendidikan formal menjadi suatu kekhawatiran akan masa depan anak-anak,”Sayangnya masyarakat Mumugu minim akan pendidikan formal yang tidak tersedia. Masyarakat di sini belum berpikir akan perubahan yang akan datang, padahal daerah ini sudah mulai banyak pendatang seperti pedagang, pemburu kayu gaharu, dan para kontraktor membuat jalan,” katanya.

Fasilitas Pendidikan   
Persoalan lain di Mumugu Batas Batu, belum adanya guru dari pemerintah yang betul-betul ingin mengabdikan diri. Menurut masyarakat setempat, ada beberapa guru pernah datang bertugas di Mumugu Batas Batu dengan fasilitas tempat tinggal dan sekolah yang tersedia. Namun tidak mengajar secara serius
 ”Dulu ada guru datang ke sini, mengajar Cuma dua hari habis itu pulang tidak balik kesini lagi, habis itu ada yang datang lagi, karena cuma datang sebentar saja, masyarakat di sini pernah usir guru,” kata Kepala Suku Daniel Menja ketika di temui guru SOKOLA di Jew/Rumah Bujang. 

Para guru tersebut hanya datang paling lama satu minggu bahkan hanya dua hari setelah itu tidak mengajar lagi. Hal itu berlangsung lama, hingga mengakibatkan anak-anak di Mumugu Batas Batu, masih buta aksara hingga kini gedung sekolah terbiarkan kosong.

”Kalau guru datang hanya dua hari atau dua minggu, lebih baik tidak usah datang lagi,” ujar Kepala Suku. 
Beberapa anak-anak seperti Yosepa Toraisop, Sempa Puih, Daniel Aribok, dan Natalis pernah bersekolah di Sekolah Tinggkat Dasar di Pusat Distrik Sawaerma. Namun karena alasan jarak sekolah yang jauh bahkan sering mendapat kekerasan dari guru, anak-anak ini memilih tidak bersekolah lagi.

Sempa sempat bercerita bahwa ayahnya putus asa dan menyarankan Sempa tidak harus pergi sekolah di Sawaerma karena ayahnya sudah tua dan tidak mampu berburu, mecari makanan secukupnya, ”Bapak saya dengar dari Keuskupan Agast bahwa nanti ada guru SOKOLA RIMBA ke sini jadi saya belajar di sini saja,” kata Sempa Puih.

Selain itu Yosepa Toraisop, yang juga pernah sekolah di Sawaerma itu mengatakan, masih ingin melanjutkan sekolah hingga dapat mengejar cita-cita menjadi guru untuk ia dapat mengajar anak-anak kecil di Mumugu, ”Tapi saya takut masuk sekolah di Sawaerma, ada satu guru jahat sekali, saya dan teman-teman  sering dipukul pakai kayu besar kalau kita bermain,” kata Yosepa.

  
Peran SOKOLA RIMBA
Keberadaan Guru SOKOLA yang bekerjasama dengan Keuskupan Agats, Asmat bisa dikatakan melahirkan harapan baru bagi anak-anak Mumugu Batas Batu yang banyak menggantungkan harapan dan cita-cita nantinya dengan proses pendidikan sekolah formal. 

Program Literasi SOKOLA Papua di Mumugu Batas Batu selama enam bulan namun, baru memasuki tiga bulan proses belajar-mengajar SOKOLA, perkembangan pengetahuan murid sudah sangat terlihat, sudah dapat membaca, menulis cerita/mengarang, berhitung-perkalian, dan pembagian angka.
Perkembangan anak-anak ini menjadi kabar baik di kampung tetangga, Mumugu bawa, Sawaerma maupun di Kabupaten Agats. Anak-anak dari desa Sawaerma dan Mumugu Bawa bahkan ada yang datang ke Mumugu Batas Batu, mereka meminta untuk diajarkan baca tulis oleh Guru SOKOLA.

Dalam proses mengajar, anak-anak murid SOKOLA dibagi dalam empat kelompok, pertama, kelompak bermain untuk tingkat anak di bawah umur 6 tahun, kelompok kedua, anak-anak umur 6 tahun ke atas dengan proses pengenalan huruf alphabet. Kelompok ketiga terdiri dari dua kelas, para murid yang sudah dapat membaca dua sampai tiga suku kata dan empat suku kata kelas sendiri. Kelompok ke empat, para murid yang sudah sampai di tinggkat belajar dikte, berhitung, perkalian, dan pembagian angka.

Proses belajar pun tidak mengenal ruang kelas, para murid lebih suka di ruang terbuka-belajar sambil bermain di seberang sungai, dan di hutan saat mencari makanan.

Melihat perkembangan anak-anak, para orangtua pun ikut semangat menginginkan anak-anak mereka bisa melanjutkan pendidikan sekolah, menyelesaikan pendidikan di bangku SMA bahkan ada orangtua yang menginginkan anak-anak mereka menjadi guru, perawat, dan mantri supaya bisa membantu masyarakat Mumugu Batas Batu yang 90 persen mengidap penyakit kusta.  

”Air mata saya sempat menetes, melihat beberapa orangtua sehabis bekerja angkat barang pedatang di pelabuhan kecil, mereka langsung menuju kios  belanja buku tulis untuk anak-anak belajar,” ungkap Suabra.


Monday, 29 August 2016

Olahraga untuk Cepat Pintar?

Jumat 01 Nov 2013 (Mumugu Batas Batu | Asmat | Papua) Hari ini begitu cerah. Saya, Pulunk, Ansel, bersama beberapa murid ke seberang sungai, kita membuat bivak, seharian belajar dan bermain di situ. Pulunk lagi masak dengan tungku seadanya, sementara saya dan beberapa murid membuat bivak dari ranting pohon beratapkan daun woka. Murid yang lain sedang berburu, mencari lauk.
Tiba-tiba suara teriakan terdengar di pinggir sungai,”Pak guru, sini di sungai,” Teriak Adam salah satu murid di kelompok saya. Saya kemudian berlari ke sungai, sontak-terkejut melihat Adam sedang bermain duduk di atas punggung buaya Kuri mari sini, naik ke punggung buaya, kita main di sungai,” ajak Adam.
Ting,, ting.. ting… bel berbunyi keras di depan Pustu, ”buset.!!”Teriakku, ternyata saya bermimpi. Saya  bergegas mencuci muka dari air hujan. Setelah itu kedepan Pustu melihat murid-murid yang datang, mereka biasa membangunkan kita kalau kita telat bangun.Ternyata semua murid laki-laki yang datang. Mereka mengajak saya untuk main bola.”Kuri, dafanem ( Guru, cepat) mari Suda kita main bola” kata David Menja. Kita pun bergegas ke lapangan pinggir sungai. Bermain bola kaki tanpa alas kaki.
 Dalam perjalanan menuju lapangan, salah satu murid, Tadius tiba-tiba bertanya ”Pak guru, kalau kita main bola nanti kita jadi pemain bola seperti yang di televisi itu, main di lapangan luas baru banyak orang nonton?”Saya kaget. Para murid ini ternyata suka nonton pertandingan bola kaki di televisi, di kiosnya pak Herman.
Saya kemudian tidak kehabisan ide bagaimana mengaitkan olahraga dan baca-tulis mereka selama di sini
”Kita main bola, olahraga tidak selalu harus menjadi pemain bola kaki seperti di televisi, kita berolahraga untuk menyehatkan badan. Jika badan kita sehat, otak kita ikut sehat, jika sehat, kita akan cepat tahu membaca dan tahu banyak hal,” kataku polos.
”Oke, Kuri kalau begitu kita main bola sampai sore supaya kita cepat pintar,” kata Tadius dengan semangat. Ahhh, akhirnya saya terjebak juga.”Mampuslah saya kalau main bola dari pagi sampai sore.”

Thursday, 18 February 2016

Tantangan Menata Kemilau Doko

Proses Penambangan | Photo Ewin
Dulunya Tanjung Golao tak ada penghuni. Memasuki tahun 2013, masyarakat dari dalam dan luar daerah mulai tumpah ruah di sini – berburu rupiah dengan cara menambang batu  Bacan Doko.

Tanjung Golao tepatnya berada di Kampung Doko, Kecamatan Kasiruta Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Mata pencarian masyarakat Doko umumnya adalah petani cengkeh, kopra, dan nelayan. akibat harga pasar mempengaruhi harga batu, masyarakat pun beralih pekerjaan sebagai penambang batu.

Asbaha Rijal (33), petani yang beralih sebagai penambang batu Bacan Doko berkisah, ketika di temui pada Sabtu pekan lalu di sebuah rumah terpal – tempat tinggalnya bersama enam penambang lainnya di Tanjung Golao. Rumah terpal tersebut dinamakan Mes Oma Moy.

Mes Oma Moy adalah salah satu rumah terpal yang dibuat oleh para penambang. Asbaha sendiri sebagai Kepala Rep (Kepala Rep atau kordinator kelompok penambang). Selain kelompok dari Asbaha, kurang lebih ada 7000 penambang yang datang tinggal di Tanjung Golao.

Dari 7000 penambang yang tergabung dalam kelompok memiliki 200 lebih lubang tambang batu  Bacan Doko. Satu kelompok terdiri dari tujuh orang dan satu lubang tambang dikerjakan oleh lima kelompok. Di dalam rumah terpal, para penambang tidur seadanya, tempat tidur dibuat layaknya tandu pramuka berbahan karung beras, sisi tempat tidur menggunakan ranting yang dimanfaatkan dari pohon di pulau itu. 

Pagi harinya, para penambang batu memulai aktivitas menambang menuju lokasi lubang penggalian. Di sebuah lubang dengan kedalaman 40-50 meter lebar 2,5 meter, para penambang ini mulai berburu rupiah, berharap jika mendapat batu  berkualitas bisa dijual ke luar.

Asbaha berdiam diri sejenak di depan lubang. Matanya mengatup, tangannya dianggkat setinggi bahu. Mulut Asbaha bergerak. Begitu proses mendoakan kesalamatan sebelum masuk ke dalam lubang tambang itu. Asbaha dan beberapa teman penambang mulai masuk dengan berbekal palu, linggis kecil, dan parfum.“Sebelum menambang, parfum harus disemprot ke dinding batu terlebih dahulu,” ungkap Asbaha.

Setiap dua jam, para penambang bergantian masuk lubang untuk memahat bongkahan batu. Para penambang lainnya sambil menunggu, mereka bermain catur yang buah caturnya memakai sisa-sia batu Bacan Doko. Sementara yang lainnya menjaga mesin blower, mesin udara yang dinyalakan menggunakan genset.

Blower tersebut dipasangi plastik bening menyerupai selang. Plastik tersebut kemudian dimasukkan ke dalam lubang agar udara dapat masuk ke dalam lubang hingga penambang leluasa bernapas. Hasil dari menambang tidak menentu, dalam seminggu, para penambang bisa menghasilkan 100-200 juta. Sistem pendapatan menyerupai penghasilan petani kopra, yakni menggunakan sistem bagi hasil.

Para penambang tidak menyewa lahan tambang dari pemilik kebun. Hanya saja, hasil dari pertambangan dibagi hasil dengan pemilik lahan. “Pemilik lahan bisa mendapat dua bagian, sebagai pemilik lahan dan penunjuk lokasi lubang tambang. Upahnya, sama dengan upah para penambang,” jelas Asbaha.

Sebelum batu Bacan Doko tenar dari dalam dan luar negeri, Tanjung Golao dijadikan kebun kopra oleh penduduk lokal Kampung Doko, penduduk lokal pun mengambil batu akik seadanya untuk dijual murah bahkan ditukar dengan tembakau, beras, dan gula seadanya.

Meskipun begitu, batu akik tersebut dijual cukup mahal di luar daerah. Hingga pada tahun 2000-an, penduduk setempat mulai mengetahui akan harga pasar batu  Bacan Doko di luar daerah yang dipatok cukup mahal itu. Masyarakat lokal pun mulai menambang.

Paska tahun 2013, penambang dari luar daerah mulai berdatangan, menempati Tanjung Golao. Penduduk lokal pemilik lokasi kebun tidak lagi mengerjakan kopra, mereka menyerahkan lokasi kebun kepada penambang untuk mencari batu akik.

Penambang berdatangan dari dalam dan luar daerah Maluku Utara. Tidak hanya penambang, pembeli dan pedagang batu akik pun berdatangan. Pedagang sembaku pun membangun kios-kios kecil di pulau itu.

Harga transportasi dan sembako pun naik. Dulunya, penduduk lokal hanya mengeluarkan uang senilai Rp100.000 untuk sampai ke Kampung Doko dan Palameda menggunakan speed boat. Kini, para pengguna speed boat harus mengeluarkan uang senilai Rp.200.000 untuk sampai di Kampung Doko saja.

Ketua Asosiasi Speed boat Sofyan mengatakan, semenjak tenarnya batu Bacan Doko, orang-orang mulai berdatangan. Hal tersebut membuatnya harus ekstra keras mengurus jalur transportasi dan ketersediaan speed boat.

“Dulu, hanya ada 10 buah speed boat, hingga pada tahun 2015 sudah ada 67 buah speed boat untuk jalur ke pulau Golao, Doko, dan Palamea,” kata Sofyan. 

Dampak Sosial Lingkungan
Ketenaran batu Bacan Doko hingga ke luar negeri tidak sebanding dengan situasi yang dihadapi masyarakat Doko. Perubahan mata pencarian dan dampak lingkungan mulai terasa. Masyarakat jelas digiurkan dengan harga batu Bacan Doko. Hal tersebut karena hasil bertani cengkeh, kopra, dan nelayan begitu jauh dari hasil menambang batu Bacan Doko.

“Harga Batu Bacan Doko mempengaruhi kehidupan masyarakat Doko yang dulunya petani dan nelayan. Banyak anak-anak memilih tidak sekolah dengan alasan bekerja sebagai penambang batu lebih menghasilkan,” kata Darmin.

“Selain itu, batu Bacan adalah sumber daya alam yang tidak tergantikan, jika terus diambil secara massif maka akan habis. Masyarakat yang dulunya bertani dan nelaian bisa jadi akan kembali ke situasi yang sulit,” tambahnya. Munawir (28) Pemuda asal Kasiruta Timur mengatakan, tergiuarnya masyarakat akan harga batu ini jelas mempengaruhi kehidupan masyarakat Kampung Doko jika tidak diimbangi dengan pemahaman akan pentingnya pendidikan.
Bahkan, menurutnya, terjadi persaingan kelas dikalangan masyarakat itu sendiri. Tradisi pun kian berubah. Jika dulunya masyarakat saling memberikan makanan, kini tradisi tersebut kian menghilang. “Jika dulunya, tetangga bisa makan di rumah tetangga sebelahnya, kini tidak lagi. Situasi sekarang terbangun kelas sosial antara kaya dan miskin karena uang hasil bertambang batu Bacan Doko dan,”katanya. 

Menurutnya, tak sedikit masyarakat lokal yang kaget dengan penghasilan akan batu Bacan Doko. Bahkan, ada yang kebingungan pendapatan tersebut diperuntukkan bagaimana.

“Selain itu, dari 100 persen masyarakat Doko yang berbisnis batu Bacan Doko, hanya 30 persen yang menggunakan hasil pertambangan dengan menyekolahkan anak-anak dan membeli barang yang berguna untuk memutar modal,” tambahnya.

Di samping itu, kesadaran akan dampak lingkungan mulai terasa dikalangan para penambang dengan maraknya para penambang berdatangan di Pulao Doko. Jika dulunya masyarakat lokal menambang batu Bacan Doko dengan melihat kondisi tanah, kini, para penambang mulai menambang di daerah yang rawan akan terjadinya longsor.

“Penambang mulai banyak berdatangan dari seluruh daerah. Mereka mulai menambang di daerah perbukitan. Jika tidak diperhatikan, akan terjadi longsor ketika hujan,” ungkap salah satu penambang Amrin Pelu (28), warga Wayamiga, Bacan.

Amrin yang juga pernah bekerja sebagai penambang emas ini khawatir dengan pembiaran tersebut, bahkan pemerintah daerah sendiri tidak pernah melakukan pendampingan dan pemahaman akan dampak lingkungan. “Selama ini pemerintah bahkan dinas Pertambangan tidak pernah datang ke sini,”katanya. []  
Oleh : Faris Bobero

Monday, 25 January 2016

Nostalgia di Pulau Tak Berpenghuni

Situasi malam hari, Senin (08/06/2015) saat berkemah di Pulau Mede. dari kiri ke kanan, Faris Bobero (Penulis), Dzul, Ipang, Aidy, Wira.
Pulau Mede adalah salah satu Pulau kecil tak berpenghuni, tak banyak diketahui orang Bahkan jarang dikunjungi wisatawan karena tidak terpromosikan ke publik keindahan wisatanya. Namun, Pulau ini telah mengukur banyak cerita nostalgia saya ketika berada di sana.

Tepatnya pukul 05.10 WIT pada Minggu (07/06/2015), saat gerimis dan angin laut berhembus di utara Kota Ternate,  Ipang (28), teman saya dengan kendaraan bermotor datang ke Rumah, di Tafure, tempat saya tinggal. Dengan maksud “Bayar Niat” untuk berpergian ke Pulau Mede di depan Desa Popilo, Tobelo, Halmahera Utara. Salah satu pulau kecil tak berpenghuni yang selalu saya rindukan.
Agenda ini kali kedua, saya bersama Ipang berniat pergi setelah setahun. Namun, niat ini ternyata mengundang niat teman saya yang satu ini, Dzul. Alasanya, tahun kemarin, ia tidak sempat ikut. Dzul mengunakan motor matic, sedangkan saya berboncengan dengan Ipang. Kita bertiga akhirnya menuju Pelabuhan Ferry di bastiong dengan tujuan menuju Sidangoli.
Menumpangi Ferry Kerapu berkisar dua jam perjalanan ke Sidangoli. Dengan modal tiket satu kendaraan bermotor Rp42.000 dan tiket perorang Rp.19.000.
Untuk menuju ke Tobelo dari Kota Ternate, bisa juga menggunakan jasa speed boad dengan harga perorang Rp50.000 ke Sofifi lalu naik angkot menuju Tobelo dengan harga tiket Rp.100.00 perorang. Jarak tempuh kurang lebih 3-4 jam perjalanan.
Tobelo terletak di semenanjung utara Pulau Halmahera, berbatasan dengan kecamatan Kao dan Galela di selatan. Dengan  luas daratan 808,4 Km2 dan dihuni oleh sekitar 83.575 jiwa (Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halut tahun 2012).
Sesampai di Sidangoli, tak lupa kita periksa keadaan kendaran, mulai dari ban, kondisi oli, hingga bahan bakar motor. Tidak lupa memakai jaket untuk menahan terik matahari maupun hujan yang mungkin nanti mengguyur tiba-tiba di tengah perjalanan.
Kurang lebih lima jam perjalanan kita bertiga sampai di Tobelo. Saat itu, kondisi cuaca kurang mendukung, awan hitam menyelimuti alam Halmahera Utara, beruntung saat di Tobelo, sesampai di rumah saya, di Dufa-Dufa, barulah hujan lebat mengguyur. Malam itu juga, selepas ba’dah Isya hujan redah. Kita menuju Popilo bertemu Humaidi Djaguna (28), saya biasa menyapanya Aidi. Malam itu kita menyusun agenda, jika esok hari tidak hujan, kita berniat naik gunung Dukono, mandi di Air Panas Mamuya, lalu ke Pulau Mede.
Setelah berbincang, kita bertiga balik ke Dufa-Dufa. Menginap semalam di rumah saya, rumah panggung di atas Pantai Dufa-Dufa.
Malam itu, gongongan halilintar menemani tidur kita, seng yang bocor membuat air hujan leluasa masuk ke bilik kamar. Dzul tertidur pulas sambil mendengkur di samping kanan saya, namun Ipang di samping kiri saya tidak bisa tidur nyenyak akibat percikan air yang keluar dari atas seng. Saya sedikit minder dengan kondisi ini. 
Hingga pagi tiba, langit masih mendung, dan akhirnya beberapa jam kemudian hujan lebat. Putus asa menghampiri, untuk bepergian. Beruntung sore harinya, hujan reda. Niat pun terpenuhi. Menuju Pulau Mede. 
Gunung Mamuya terlihat dari Pulau Mede
Terlepas dari keindahan wisata pulau-pulau lain, seperti pulau Dodola, Zum-zum, bahkan wilayah "nostalgia" perang dunia kedua lainnya di Halmahera. Pulau Mede tetap menjadi nostalgiaku, Pulau kecil yang tidak banyak dikunjungi oleh orang-orang.
Tidak hanya keindahan pulaunya, keramahan, dan budaya orang Popilo inilah yang selalu membuat saya rindu akan kampung ini. beberapa kali saya ke Pulau Mede, beberapa masyarakat selalu meminjamkan sampan tanpa harus saya mengeluarkan uang sepeserpun sebagai upah sewa. 
Kurang lebih 10 menit mendayung sampan dari Desa Popilo ke Pulau Mede. Di sana, bersama teman akrab yang telah menjadi saudara angkatku, Aidy, Wirahai Fadel, Dzul, dan Ipang kita mengukir kisah-kisah indah di Pulau ini. mendirikan tenda seadanya, dan membuat bifak untuk tempat memasak. 

Aidy bercerita, dulunya, masyarakat setempat selalu mencari kerang di laut saat bulan terang, lalu kemudian menemukan Pulau Mede. Mede sendiri artinya bulan terang. Saat itulah masyarakat mulai menamakan pulau pulau Mede.
Selain Pulau Mede, Pulau Tagalaya, Kakara, Pantai Kupa-Kupa, Telaga Paca, Kumo, Luari, Pulau Meti, Pantai Carlen Pitu, Rorangane, Pawole, Pasir Timbul, Bukit Doa di kaki Gunung Dukono, serta Air Terjun Jembatan Batu menjadi daya tarik para wisatawan.
Meskipun demikian, terlepas dari keindahan wisata Pulau-Pulau di Tobelo, Halmahera Utara, Pulau Mede selau menjadi tempat bernostalgia saya dengan teman-teman. Selain jauh dari hiruk-pikur kebisingan kota, pulau tak berpenghuni ini menyediakan sumber makanan, seperti pisang, kelapa muda, ikan segar di laut, pepaya, dan buah-buahan lainnya yang ditanam oleh masyarakat sekitar. Tradisi “baku kasih” bahan makanan masih terjaga.

Tuesday, 12 January 2016

Dusun Raja yang Hilang

Bivak Suku Tobelo, O'Hongana Manyawa di Dodaga.
Dusun Raja atau Raki Ma’amoko adalah sebuah kebun besar dengan sumber makanan yang banyak yang dimanfaatkan oleh komunitas O’Hongana Manyawa Dodaga. Meskipun kepemilikan lahan kebun milik satu marga namun peruntukan hasil panen untuk semua orang.

Pada Maret 2015, Saya bersama Andri Ummamith berkunjung ke Bivak, Opa Tanganiki bersama Istrinya. Malam itu di Kebun lansa yang tidak jauh dari daerah transmigrasi.
daerah Trans dulunya hutan lebat, hanya di Dusun Raja Lansa dan Dusun Raja Sagu yang tidak berhutan sebab di situ adalah sumber kebun makanan yang dirawat untuk komunitas mereka. Semua orang bisa datang memanen buah lansa dan sagu untuk pemenuhan kebutuhan di rumah. Bahkan, secara gotong-royong menjaga kebersihan Dusun Raja tersebut.
“Orang dari Maba, Buli bisa datang di Dusun Raja untuk ambel Sagu dan lansa,” kata Opa Tanganiki.
Pemilik Dusun Raja Lansa adalah kakek dari Almarhum Lopa-lopa, saat penggusuran untuk membangun SP 4, pihak perusahan yang mengerjakan proyek tersebut tidak berkordinasi dengan pemilik dusun.
“Yang kerja bikin SP itu dari perusahan dong pe nama perusahan PT Sandara. Lopa-Lopa datang marah-marah, bawa panah dan parang, merontak karena Dusun Raja digusur. Tapi saat itu juga pihak perusahan kasih ganti rugi pake doi jadi suda tidak masalah,” Kata Opa Kasiang, yang saat itu juga berada di bivak bersebelanan dengan bivak Opa Tanganiki.
Sebagian warga komunitas tidak melakukan penolakan karena lahan tersebut adalah hak milik keluarga Almarhum Lopa-Lopa. Yang kini tersisa hanyalah Dusun Raja dengan sumber makanan Sagu yang juga berdekatan dengan lokasi SP 4 dekat jembatan, di samping jalan. Beberapa komunitas mendiami Dusun Raja Sagu tersebut sebagai sumber makanan.
“Dulu, saya punya kebun juga ada di SP 4, luas 2 hektar, saya tanam ubi, petatas, pisang, dan sayur-sayur. Waktu itu orang PT Sandra datang gusur, saya minta ganti rugi Rp.150.000 tapi orang PT Sandra tramau, jadi dong kasih Rp.25.000 dengan beras 50kg saja. Saya tidak melawan karena saya tidak sekolah tinggi to, tidak tahu hukum,” Kisahnya.
Dengan masuknya transmigrasi, pola konsumtif Om Kasiang pun beragam, yang dulunya makan sagu, ubi, petatas, dan padi ladang, kini lebih bergantung dengan padi sawa. Selain itu, untuk kebutuhan minum, cenderung membeli air gelon dengan harga Rp,700 karna sungai sudah tercemar dengan limbah produksi daging sapi dan pupuk tanaman yang dicuci di sungai.
Namun, masih ada hal lama yang dilakukan oleh orang Jawa di transmigrasi dengan komunitas O’Hongana manyawa yakni sistem barter. “Saya pe maitua itu sering ke Trans bawa pisang, ubi, petatas untuk tukar dengan beras. Sampai sekarang masih dilakukan”.
Sebelumnya Opa kasiang tinggal berpindah-pindah di hutan Dodaga, pada tahun 1959 ada guru dari buli datang di Dodaga, Om kasiang dan beberapa teman sempat belajar selama tiga tahun. Saat itu, mata pelajaran berhitung, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu bumi, dan menggambar.

“Berhitung itu ada namanya remis, 1 remis=5 sen. Ketip misalnya 1 ketip= 10 sen, dan pelajaran kelip. 1 kelip=5sen, pelajaran kelip sama dengan pelajaran remis yakni 1 kelip atau 1 remis = 5sen”.
Pada tahun 1963, masuk bantuan sosial melalui Kementerian Sosial terkait dengan program Resettlement dengan menggunakan istilah “rumah kumuh” dan perumahan bagi “tuna budaya” (Isitilah ini dipakai oleh pemerintah untuk menyebut O’Hongana Manyawa yang masih hidup di hutan) sekaligus membuat desa Dodaga. Saat itu berkisar 40 Kepala Keluarga (KK) komunitas O’Hongana manyawa termasuk Opa Kasiang dikeluarkan dari hutan untuk menempati rumah kumuh yang disediakan. Namun, masih ada 30 KK yang memilih tidak keluar. Saat itu juga sekolah mulai mengunakan seragam.
Pada tahun 1957, kembali lagi program perumahan diadakan di Rai Tukur-Tukur, Opa Kasiang juga termasuk yang mendapatkan bantuan rumah tersebut di Rai Tukur-tukur yang menjadi anak dusun dari desa Dodaga. (Faris Bobero)