This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, 25 January 2016

Nostalgia di Pulau Tak Berpenghuni

Situasi malam hari, Senin (08/06/2015) saat berkemah di Pulau Mede. dari kiri ke kanan, Faris Bobero (Penulis), Dzul, Ipang, Aidy, Wira.
Pulau Mede adalah salah satu Pulau kecil tak berpenghuni, tak banyak diketahui orang Bahkan jarang dikunjungi wisatawan karena tidak terpromosikan ke publik keindahan wisatanya. Namun, Pulau ini telah mengukur banyak cerita nostalgia saya ketika berada di sana.

Tepatnya pukul 05.10 WIT pada Minggu (07/06/2015), saat gerimis dan angin laut berhembus di utara Kota Ternate,  Ipang (28), teman saya dengan kendaraan bermotor datang ke Rumah, di Tafure, tempat saya tinggal. Dengan maksud “Bayar Niat” untuk berpergian ke Pulau Mede di depan Desa Popilo, Tobelo, Halmahera Utara. Salah satu pulau kecil tak berpenghuni yang selalu saya rindukan.
Agenda ini kali kedua, saya bersama Ipang berniat pergi setelah setahun. Namun, niat ini ternyata mengundang niat teman saya yang satu ini, Dzul. Alasanya, tahun kemarin, ia tidak sempat ikut. Dzul mengunakan motor matic, sedangkan saya berboncengan dengan Ipang. Kita bertiga akhirnya menuju Pelabuhan Ferry di bastiong dengan tujuan menuju Sidangoli.
Menumpangi Ferry Kerapu berkisar dua jam perjalanan ke Sidangoli. Dengan modal tiket satu kendaraan bermotor Rp42.000 dan tiket perorang Rp.19.000.
Untuk menuju ke Tobelo dari Kota Ternate, bisa juga menggunakan jasa speed boad dengan harga perorang Rp50.000 ke Sofifi lalu naik angkot menuju Tobelo dengan harga tiket Rp.100.00 perorang. Jarak tempuh kurang lebih 3-4 jam perjalanan.
Tobelo terletak di semenanjung utara Pulau Halmahera, berbatasan dengan kecamatan Kao dan Galela di selatan. Dengan  luas daratan 808,4 Km2 dan dihuni oleh sekitar 83.575 jiwa (Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halut tahun 2012).
Sesampai di Sidangoli, tak lupa kita periksa keadaan kendaran, mulai dari ban, kondisi oli, hingga bahan bakar motor. Tidak lupa memakai jaket untuk menahan terik matahari maupun hujan yang mungkin nanti mengguyur tiba-tiba di tengah perjalanan.
Kurang lebih lima jam perjalanan kita bertiga sampai di Tobelo. Saat itu, kondisi cuaca kurang mendukung, awan hitam menyelimuti alam Halmahera Utara, beruntung saat di Tobelo, sesampai di rumah saya, di Dufa-Dufa, barulah hujan lebat mengguyur. Malam itu juga, selepas ba’dah Isya hujan redah. Kita menuju Popilo bertemu Humaidi Djaguna (28), saya biasa menyapanya Aidi. Malam itu kita menyusun agenda, jika esok hari tidak hujan, kita berniat naik gunung Dukono, mandi di Air Panas Mamuya, lalu ke Pulau Mede.
Setelah berbincang, kita bertiga balik ke Dufa-Dufa. Menginap semalam di rumah saya, rumah panggung di atas Pantai Dufa-Dufa.
Malam itu, gongongan halilintar menemani tidur kita, seng yang bocor membuat air hujan leluasa masuk ke bilik kamar. Dzul tertidur pulas sambil mendengkur di samping kanan saya, namun Ipang di samping kiri saya tidak bisa tidur nyenyak akibat percikan air yang keluar dari atas seng. Saya sedikit minder dengan kondisi ini. 
Hingga pagi tiba, langit masih mendung, dan akhirnya beberapa jam kemudian hujan lebat. Putus asa menghampiri, untuk bepergian. Beruntung sore harinya, hujan reda. Niat pun terpenuhi. Menuju Pulau Mede. 
Gunung Mamuya terlihat dari Pulau Mede
Terlepas dari keindahan wisata pulau-pulau lain, seperti pulau Dodola, Zum-zum, bahkan wilayah "nostalgia" perang dunia kedua lainnya di Halmahera. Pulau Mede tetap menjadi nostalgiaku, Pulau kecil yang tidak banyak dikunjungi oleh orang-orang.
Tidak hanya keindahan pulaunya, keramahan, dan budaya orang Popilo inilah yang selalu membuat saya rindu akan kampung ini. beberapa kali saya ke Pulau Mede, beberapa masyarakat selalu meminjamkan sampan tanpa harus saya mengeluarkan uang sepeserpun sebagai upah sewa. 
Kurang lebih 10 menit mendayung sampan dari Desa Popilo ke Pulau Mede. Di sana, bersama teman akrab yang telah menjadi saudara angkatku, Aidy, Wirahai Fadel, Dzul, dan Ipang kita mengukir kisah-kisah indah di Pulau ini. mendirikan tenda seadanya, dan membuat bifak untuk tempat memasak. 

Aidy bercerita, dulunya, masyarakat setempat selalu mencari kerang di laut saat bulan terang, lalu kemudian menemukan Pulau Mede. Mede sendiri artinya bulan terang. Saat itulah masyarakat mulai menamakan pulau pulau Mede.
Selain Pulau Mede, Pulau Tagalaya, Kakara, Pantai Kupa-Kupa, Telaga Paca, Kumo, Luari, Pulau Meti, Pantai Carlen Pitu, Rorangane, Pawole, Pasir Timbul, Bukit Doa di kaki Gunung Dukono, serta Air Terjun Jembatan Batu menjadi daya tarik para wisatawan.
Meskipun demikian, terlepas dari keindahan wisata Pulau-Pulau di Tobelo, Halmahera Utara, Pulau Mede selau menjadi tempat bernostalgia saya dengan teman-teman. Selain jauh dari hiruk-pikur kebisingan kota, pulau tak berpenghuni ini menyediakan sumber makanan, seperti pisang, kelapa muda, ikan segar di laut, pepaya, dan buah-buahan lainnya yang ditanam oleh masyarakat sekitar. Tradisi “baku kasih” bahan makanan masih terjaga.

Tentang Faris Bobero



Faris Bobero, dibesarkan dari keluarga buruh di Tobelo, Halmahera Utara. Anak ketiga dari lima bersaudara. Masa kecilnya dihabiskan di jalan ketika konflik horizontal melanda Maluku Utara pada tahun 1999 hingga memaksanya mengungsi ke Makassar (Ujung Pandang saat itu). 

Di Makassar, Faris melanjutkan pendidikan dasar di MI YASPI Sambung Jawa Makassar dan Lulus pada tahun 2000. Akibat orang tuanya kehilangan mata pencarian, keluarganya memilih balik ke Ternate. Faris pun melanjutkan pendidikan SMP di Ternate. 

Saat itu dibuka SMP N 1 Tobelo Alternatif di Ternate. Sekolah tersebut diperuntukkan bagi para pengungsi. Setelah konflik reda, pada 2003 mereka memilih balik ke kampung halaman, Tobelo. Saat itu pula, ayahnya tidak lagi mendapat pekerjaan sebagai Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan Tobelo. Dengan alasan, ayahnya tidak memiliki ijazah SD-SMA. 

Selain itu, posisi ayahnya yang dulu sebagai mandor telah diganti orang lain. Kini, ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan. Hingga pada tahun 2006, Faris lulus pendidikan SMA di Madrasah Aliyah Alkhairaat Tobelo. Biaya sekolahnya didapat dari hasil kerja di warung Coto Makassar di Tobelo. 

Mulai dari itu, pemilik warung Coto Makassar di Dufa-Dufa, yang juga menjadi orang tua angkatnya menyarankan agar Ia melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Kota Ternate. Faris melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) pada tahun 2006 dan lulus pada tahun 2012. Ia memilih tidak mengambil ijazah. Ia berkeinginan berpergian ke daerah-daerah sambil belajar dan menulis catatan. Keinginan akan belajar menulis terus ia tekuni, hingga pada 2012, ia sempat mengikuti pendidikan wartawan di salah satu media massa di Jakarta. Kontak: farisbobero@yahoo.com.

Tuesday, 12 January 2016

Dusun Raja yang Hilang

Bivak Suku Tobelo, O'Hongana Manyawa di Dodaga.
Dusun Raja atau Raki Ma’amoko adalah sebuah kebun besar dengan sumber makanan yang banyak yang dimanfaatkan oleh komunitas O’Hongana Manyawa Dodaga. Meskipun kepemilikan lahan kebun milik satu marga namun peruntukan hasil panen untuk semua orang.

Pada Maret 2015, Saya bersama Andri Ummamith berkunjung ke Bivak, Opa Tanganiki bersama Istrinya. Malam itu di Kebun lansa yang tidak jauh dari daerah transmigrasi.
daerah Trans dulunya hutan lebat, hanya di Dusun Raja Lansa dan Dusun Raja Sagu yang tidak berhutan sebab di situ adalah sumber kebun makanan yang dirawat untuk komunitas mereka. Semua orang bisa datang memanen buah lansa dan sagu untuk pemenuhan kebutuhan di rumah. Bahkan, secara gotong-royong menjaga kebersihan Dusun Raja tersebut.
“Orang dari Maba, Buli bisa datang di Dusun Raja untuk ambel Sagu dan lansa,” kata Opa Tanganiki.
Pemilik Dusun Raja Lansa adalah kakek dari Almarhum Lopa-lopa, saat penggusuran untuk membangun SP 4, pihak perusahan yang mengerjakan proyek tersebut tidak berkordinasi dengan pemilik dusun.
“Yang kerja bikin SP itu dari perusahan dong pe nama perusahan PT Sandara. Lopa-Lopa datang marah-marah, bawa panah dan parang, merontak karena Dusun Raja digusur. Tapi saat itu juga pihak perusahan kasih ganti rugi pake doi jadi suda tidak masalah,” Kata Opa Kasiang, yang saat itu juga berada di bivak bersebelanan dengan bivak Opa Tanganiki.
Sebagian warga komunitas tidak melakukan penolakan karena lahan tersebut adalah hak milik keluarga Almarhum Lopa-Lopa. Yang kini tersisa hanyalah Dusun Raja dengan sumber makanan Sagu yang juga berdekatan dengan lokasi SP 4 dekat jembatan, di samping jalan. Beberapa komunitas mendiami Dusun Raja Sagu tersebut sebagai sumber makanan.
“Dulu, saya punya kebun juga ada di SP 4, luas 2 hektar, saya tanam ubi, petatas, pisang, dan sayur-sayur. Waktu itu orang PT Sandra datang gusur, saya minta ganti rugi Rp.150.000 tapi orang PT Sandra tramau, jadi dong kasih Rp.25.000 dengan beras 50kg saja. Saya tidak melawan karena saya tidak sekolah tinggi to, tidak tahu hukum,” Kisahnya.
Dengan masuknya transmigrasi, pola konsumtif Om Kasiang pun beragam, yang dulunya makan sagu, ubi, petatas, dan padi ladang, kini lebih bergantung dengan padi sawa. Selain itu, untuk kebutuhan minum, cenderung membeli air gelon dengan harga Rp,700 karna sungai sudah tercemar dengan limbah produksi daging sapi dan pupuk tanaman yang dicuci di sungai.
Namun, masih ada hal lama yang dilakukan oleh orang Jawa di transmigrasi dengan komunitas O’Hongana manyawa yakni sistem barter. “Saya pe maitua itu sering ke Trans bawa pisang, ubi, petatas untuk tukar dengan beras. Sampai sekarang masih dilakukan”.
Sebelumnya Opa kasiang tinggal berpindah-pindah di hutan Dodaga, pada tahun 1959 ada guru dari buli datang di Dodaga, Om kasiang dan beberapa teman sempat belajar selama tiga tahun. Saat itu, mata pelajaran berhitung, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu bumi, dan menggambar.

“Berhitung itu ada namanya remis, 1 remis=5 sen. Ketip misalnya 1 ketip= 10 sen, dan pelajaran kelip. 1 kelip=5sen, pelajaran kelip sama dengan pelajaran remis yakni 1 kelip atau 1 remis = 5sen”.
Pada tahun 1963, masuk bantuan sosial melalui Kementerian Sosial terkait dengan program Resettlement dengan menggunakan istilah “rumah kumuh” dan perumahan bagi “tuna budaya” (Isitilah ini dipakai oleh pemerintah untuk menyebut O’Hongana Manyawa yang masih hidup di hutan) sekaligus membuat desa Dodaga. Saat itu berkisar 40 Kepala Keluarga (KK) komunitas O’Hongana manyawa termasuk Opa Kasiang dikeluarkan dari hutan untuk menempati rumah kumuh yang disediakan. Namun, masih ada 30 KK yang memilih tidak keluar. Saat itu juga sekolah mulai mengunakan seragam.
Pada tahun 1957, kembali lagi program perumahan diadakan di Rai Tukur-Tukur, Opa Kasiang juga termasuk yang mendapatkan bantuan rumah tersebut di Rai Tukur-tukur yang menjadi anak dusun dari desa Dodaga. (Faris Bobero)