![]() | |
| foto doc kabarpulau.com |
TERNATE – Hampir setahun warga Kecamatan
Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara krisis air bersih. Warga tidak dapat
mengonsumsi sumber air dari PDAM Kota Ternate. Untuk mendapat air bersih, warga
harus membeli air galon di depot air untuk kebutuhan minum dan memasak.
Pantauan kabarpulau.com, Sejak April 2015 hingga
Februari 2016, warga Kecamatan Ternate Utara yang tercatat sebagai pelanggan
PDAM Kota Ternate masih menggunakan air asin atau payau sumber PDAM Kota
Ternate untuk keperluan mandi. “Sejak April 2015 hingga saat ini, kami tidak
dapat mengkomsumsi air bersih dari kran yang disalurkan oleh PDAM Kota Ternate
karena asin. Kami terpaksa mengambil air dari sumur tetangga untuk keperluan
memasak, sedangkan untuk minum, kami beli air galon di depot. Air PDAM hanya
dipakai untuk mandi” ungkap Amir (53), salah satu pelanggan PDAM Kota Ternate
ketika ditemui di rumahnya, di Kelurahan Tafure, Rabu (10/02/2016).
Akibat dari air yang
terasa asin, kran di rumah keluarga Amir pun karatan dan mengalami kerusakan.
Keluarga Amir mencatat sudah dua kali mengganti kran di rumah karena rusak.
Meskipun demikian,
masyarakat tetap bertahan dan berlangganan ke PDAM Kota Ternate, mereka
menggunakan air PDAM untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Namun, untuk memandikan
bayi bahkan mencuci pakaian bayi, pihak keluarga Amir menggunakan air sumur
milik warga sekitar. Setiap harinya, keluarga Amir harus berjalan kaki kurang
lebih 20 meter untuk mengambil air sumur milik warga sekitar.
Salah satu ibu rumah
tangga, Wilda (25), warga Kelurahan Akehuda, Ternate Utara juga mengatakan hal
yang sama. Mereka terpaksa membeli air bersih di depot air minum unuk kebutuhan
sehari-hari. “Sejak air PDAM terasa asin, kami harus mencari air galon untuk
minum sehari-hari,”kata Wilda.
Nurbaya (40), warga
kelurhan Dufa-Dufa Ternate Utara mengatakan, pihaknya khawatir jika menanak
nasi menggunakan air PDAM karena alasan kesehatan. “Jadi, untuk menanak nasi,
kami pakai air galon yang kami beli di depot air minum. Kebutuhan ekonomi
semakin tinggi jika begini terus. Apalagi di sekitar sini, masyarakat tidak ada
sumur, semua masih bergantung pada air PDAM, sayangnya, kami hanya menggunakan
air PDAM untuk mandi,” keluh Nurbaya.
Air
tidak Payau?
Direktur PDAM Kota
Ternate Syaiful Djafar ketika ditemui di kantor PDAM Kota Ternate pada Senin
(28/12/2015) sempat mengelak dan mengatakan bahwa air dari PDAM tidak asin atau
payau.
“Tidak ada yang bisa
bilang salobar (payau). Tawar! Tiap hari orang ambil air wuduh di masjid
samping PDAM Kota Ternate,” kata Syaiful.
Meskipun demikian,
Syaiful mengaku telah terjadi intrusi air laut di sumber air Ake Gaale di PDAM
Kota Ternate. Tak hanya itu, ia pun mengatakan bahwa ada eksploitasi berlebihan
di sumber air Ake Gaale.
“Pertama, kita
mengeksplorasi atau kita eksploitasi melebihi daya dukung yang ada. Anggaplah
di sini, para ahli bilang bahwa, di sini hanya bisa di ambil kurang lebih 80
liter perdetik, pada saat kejadian itu, kita sudah ambil 120 liter perdetik,
sudah melebihi separuh dari daya dukung yang ada. Dari 80 liter kita sudah
ambil 120 liter,”ungkapnya.
Pada 2015, kondisi ini
sempat menimbulkan reaksi di masyarakat. Masyarakat kelurahan Akehuda,
Dufa-Dufa, dan Kelurahan Sangaji melakukan aksi di Kantor PDAM Kota Ternate.
Selain itu, masyarakat
Kelurahan Sangaji yang berdekatan dengan Kantor PDAM Kota Ternate pun
mengeluhkan kondisi air sumur mereka yang asin. Hal ini dibenarkan Syaiful.
“Memang air sumur mereka asin. Betul-betul asin,”ungkapnya.
Pihak PDAM Kota Ternate
pun mengambil langkah pemasangan air PDAM gratis untuk 54 rumah tangga yang
mengeluhkan air sumur menjadi asin.
Syaiful mengatakan,
beberapa masyarakat yang terlibat aksi, menyampaikan bahwa, selama sumber air
masih terasa asin, mereka tidak akan membayar ke PDAM. Kejadian ini pun
langsung mendapat respon dari Pemerintah Kota Ternate.
“Waktu demo, pak walikota
datang dan bicarakan kasih kompensasi ke masyarakat mulai Januari sampai dengan
April 2015 kalau tidak salah. Jadi mereka punya air yang sudah muncul di
rekening, PDAM bayar. Jadi sudah bentuk piutang. DPAM bayar kuranglebih ada
30-40 juta untuk tutupi rekening itu,”katanya. Hingga sekarang, masih ada
sebagian masyarakat yang tidak membayar.
“Lalu kemudian masalah
itu berlalu. Kemudian sekarang ini, mereka ada galang aksi tidak bayar sampai
sekarang. kami (PDAM) belum ada reaksi apa-apa. Memang ada yang punya kesadaran
dan bayar. Jadi ada yang sampai sekarang tidak bayar,”tambahnya.
Mencari
Solusi
Akibat dari itu,
Syaiful berjanji, pihaknya akan memperbaiki kondisi air yang dirasakan
masyarakat Kecamatan Ternate Utara. Ia mengatakan, tidak ada jalan lain untuk
perbaikan sumber air Ake Gaale selain memindahkan lokasi sumber air.
“Jadi jalan
satu-satunya memindahkan lokasi sumber air yang terlalu dekat dengan air laut.
Jadi, sekarang ada sumur bor yang dilakukan di Kelurahan Facei, di ketinggian
80 meter. Di situ ada dua sumur bor yang dibuat di sana. Ya jadi kalau satu
sumur bor bisa dapat 10-20 liter,” kata Syaiful.
Menurutnya, pengerjaan
sumur bor di Kelurahan Facei akan berakhir pada Desember 2015. “Jadi, jika
sudah selesai, satu-dua bulan sudah bisa operasi,” katanya. Namun, hingga
sekarang, memasuki Februari 2016, masyarakat masih mengeluhkan air bersih.[]
-Pernah dimuat di kabarpulau.com pada 11 Februari 2016
http://kabarpulau.com/2015-06-30-17-12-58/kabar-kota-pulau/item/247-bertahan-hidup-di-tengah-krisis-air-bersih







0 comments:
Post a Comment