Wednesday, 17 February 2016

Bertahan Hidup di Tengah Krisis Air Bersih


foto doc kabarpulau.com

TERNATE – Hampir setahun warga Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara krisis air bersih. Warga tidak dapat mengonsumsi sumber air dari PDAM Kota Ternate. Untuk mendapat air bersih, warga harus membeli air galon di depot air untuk kebutuhan minum dan memasak.

Pantauan kabarpulau.com, Sejak April 2015 hingga Februari 2016, warga Kecamatan Ternate Utara yang tercatat sebagai pelanggan PDAM Kota Ternate masih menggunakan air asin atau payau sumber PDAM Kota Ternate untuk keperluan mandi. “Sejak April 2015 hingga saat ini, kami tidak dapat mengkomsumsi air bersih dari kran yang disalurkan oleh PDAM Kota Ternate karena asin. Kami terpaksa mengambil air dari sumur tetangga untuk keperluan memasak, sedangkan untuk minum, kami beli air galon di depot. Air PDAM hanya dipakai untuk mandi” ungkap Amir (53), salah satu pelanggan PDAM Kota Ternate ketika ditemui di rumahnya, di Kelurahan Tafure, Rabu (10/02/2016).

Akibat dari air yang terasa asin, kran di rumah keluarga Amir pun karatan dan mengalami kerusakan. Keluarga Amir mencatat sudah dua kali mengganti kran di rumah karena rusak.

Meskipun demikian, masyarakat tetap bertahan dan berlangganan ke PDAM Kota Ternate, mereka menggunakan air PDAM untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Namun, untuk memandikan bayi bahkan mencuci pakaian bayi, pihak keluarga Amir menggunakan air sumur milik warga sekitar. Setiap harinya, keluarga Amir harus berjalan kaki kurang lebih 20 meter untuk mengambil air sumur milik warga sekitar.
Salah satu ibu rumah tangga, Wilda (25), warga Kelurahan Akehuda, Ternate Utara juga mengatakan hal yang sama. Mereka terpaksa membeli air bersih di depot air minum unuk kebutuhan sehari-hari. “Sejak air PDAM terasa asin, kami harus mencari air galon untuk minum sehari-hari,”kata Wilda.

Nurbaya (40), warga kelurhan Dufa-Dufa Ternate Utara mengatakan, pihaknya khawatir jika menanak nasi menggunakan air PDAM karena alasan kesehatan. “Jadi, untuk menanak nasi, kami pakai air galon yang kami beli di depot air minum. Kebutuhan ekonomi semakin tinggi jika begini terus. Apalagi di sekitar sini, masyarakat tidak ada sumur, semua masih bergantung pada air PDAM, sayangnya, kami hanya menggunakan air PDAM untuk mandi,” keluh Nurbaya.

Air tidak Payau?
Direktur PDAM Kota Ternate Syaiful Djafar ketika ditemui di kantor PDAM Kota Ternate pada Senin (28/12/2015) sempat mengelak dan mengatakan bahwa air dari PDAM tidak asin atau payau.
“Tidak ada yang bisa bilang salobar (payau). Tawar!  Tiap hari orang ambil air wuduh di masjid samping PDAM Kota Ternate,” kata Syaiful.

Meskipun demikian, Syaiful mengaku telah terjadi intrusi air laut di sumber air Ake Gaale di PDAM Kota Ternate. Tak hanya itu, ia pun mengatakan bahwa ada eksploitasi berlebihan di sumber air Ake Gaale.
“Pertama, kita mengeksplorasi atau kita eksploitasi melebihi daya dukung yang ada. Anggaplah di sini, para ahli bilang bahwa, di sini hanya bisa di ambil kurang lebih 80 liter perdetik, pada saat kejadian itu, kita sudah ambil 120 liter perdetik, sudah melebihi separuh dari daya dukung yang ada. Dari 80 liter kita sudah ambil 120 liter,”ungkapnya.

Pada 2015, kondisi ini sempat menimbulkan reaksi di masyarakat. Masyarakat kelurahan Akehuda, Dufa-Dufa, dan Kelurahan Sangaji melakukan aksi di Kantor PDAM Kota Ternate.
Selain itu, masyarakat Kelurahan Sangaji yang berdekatan dengan Kantor PDAM Kota Ternate pun mengeluhkan kondisi air sumur mereka yang asin. Hal ini dibenarkan Syaiful. “Memang air sumur mereka asin. Betul-betul asin,”ungkapnya.  

Pihak PDAM Kota Ternate pun mengambil langkah pemasangan air PDAM gratis untuk 54 rumah tangga yang mengeluhkan air sumur menjadi asin. 

Syaiful mengatakan, beberapa masyarakat yang terlibat aksi, menyampaikan bahwa, selama sumber air masih terasa asin, mereka tidak akan membayar ke PDAM. Kejadian ini pun langsung mendapat respon dari Pemerintah Kota Ternate.

“Waktu demo, pak walikota datang dan bicarakan kasih kompensasi ke masyarakat mulai Januari sampai dengan April 2015 kalau tidak salah. Jadi mereka punya air yang sudah muncul di rekening, PDAM bayar. Jadi sudah bentuk piutang. DPAM bayar kuranglebih ada 30-40 juta untuk tutupi rekening itu,”katanya. Hingga sekarang, masih ada sebagian masyarakat yang tidak membayar.

“Lalu kemudian masalah itu berlalu. Kemudian sekarang ini, mereka ada galang aksi tidak bayar sampai sekarang. kami (PDAM) belum ada reaksi apa-apa. Memang ada yang punya kesadaran dan bayar. Jadi ada yang sampai sekarang tidak bayar,”tambahnya.

Mencari Solusi
Akibat dari itu, Syaiful berjanji, pihaknya akan memperbaiki kondisi air yang dirasakan masyarakat Kecamatan Ternate Utara. Ia mengatakan, tidak ada jalan lain untuk perbaikan sumber air Ake Gaale selain memindahkan lokasi sumber air. 

“Jadi jalan satu-satunya memindahkan lokasi sumber air yang terlalu dekat dengan air laut. Jadi, sekarang ada sumur bor yang dilakukan di Kelurahan Facei, di ketinggian 80 meter. Di situ ada dua sumur bor yang dibuat di sana. Ya jadi kalau satu sumur bor bisa dapat 10-20 liter,” kata Syaiful.

Menurutnya, pengerjaan sumur bor di Kelurahan Facei akan berakhir pada Desember 2015. “Jadi, jika sudah selesai, satu-dua bulan sudah bisa operasi,” katanya. Namun, hingga sekarang, memasuki Februari 2016, masyarakat masih mengeluhkan air bersih.[]

-Pernah dimuat di kabarpulau.com pada 11 Februari 2016
http://kabarpulau.com/2015-06-30-17-12-58/kabar-kota-pulau/item/247-bertahan-hidup-di-tengah-krisis-air-bersih



0 comments:

Post a Comment