This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tuesday, 30 August 2016

Kau Bentuk Imajinasi

Bait pertama belum tertoreh
Satu katapun
Beruntung tak sepi
Dikau hadir bentuk imajinasi
Berbatang batang rokok lenyap dimakan api
Asapnya sudah kuhembuskan berkali-kali
Dikau masih saja imajinasi
Kulumat bayanganmu berkali-kali
Sampai kenyang
Sampai muntah
Hingga pagi turun
Aku tak sendiri
Ditemani dikau
Meskipun hanya imajinasi
Faris Bobero, Jarod, 04.20 WIT, 31 Agustus 2016

Monday, 29 August 2016

Olahraga untuk Cepat Pintar?

Jumat 01 Nov 2013 (Mumugu Batas Batu | Asmat | Papua) Hari ini begitu cerah. Saya, Pulunk, Ansel, bersama beberapa murid ke seberang sungai, kita membuat bivak, seharian belajar dan bermain di situ. Pulunk lagi masak dengan tungku seadanya, sementara saya dan beberapa murid membuat bivak dari ranting pohon beratapkan daun woka. Murid yang lain sedang berburu, mencari lauk.
Tiba-tiba suara teriakan terdengar di pinggir sungai,”Pak guru, sini di sungai,” Teriak Adam salah satu murid di kelompok saya. Saya kemudian berlari ke sungai, sontak-terkejut melihat Adam sedang bermain duduk di atas punggung buaya Kuri mari sini, naik ke punggung buaya, kita main di sungai,” ajak Adam.
Ting,, ting.. ting… bel berbunyi keras di depan Pustu, ”buset.!!”Teriakku, ternyata saya bermimpi. Saya  bergegas mencuci muka dari air hujan. Setelah itu kedepan Pustu melihat murid-murid yang datang, mereka biasa membangunkan kita kalau kita telat bangun.Ternyata semua murid laki-laki yang datang. Mereka mengajak saya untuk main bola.”Kuri, dafanem ( Guru, cepat) mari Suda kita main bola” kata David Menja. Kita pun bergegas ke lapangan pinggir sungai. Bermain bola kaki tanpa alas kaki.
 Dalam perjalanan menuju lapangan, salah satu murid, Tadius tiba-tiba bertanya ”Pak guru, kalau kita main bola nanti kita jadi pemain bola seperti yang di televisi itu, main di lapangan luas baru banyak orang nonton?”Saya kaget. Para murid ini ternyata suka nonton pertandingan bola kaki di televisi, di kiosnya pak Herman.
Saya kemudian tidak kehabisan ide bagaimana mengaitkan olahraga dan baca-tulis mereka selama di sini
”Kita main bola, olahraga tidak selalu harus menjadi pemain bola kaki seperti di televisi, kita berolahraga untuk menyehatkan badan. Jika badan kita sehat, otak kita ikut sehat, jika sehat, kita akan cepat tahu membaca dan tahu banyak hal,” kataku polos.
”Oke, Kuri kalau begitu kita main bola sampai sore supaya kita cepat pintar,” kata Tadius dengan semangat. Ahhh, akhirnya saya terjebak juga.”Mampuslah saya kalau main bola dari pagi sampai sore.”

Thursday, 18 February 2016

Tantangan Menata Kemilau Doko

Proses Penambangan | Photo Ewin
Dulunya Tanjung Golao tak ada penghuni. Memasuki tahun 2013, masyarakat dari dalam dan luar daerah mulai tumpah ruah di sini – berburu rupiah dengan cara menambang batu  Bacan Doko.

Tanjung Golao tepatnya berada di Kampung Doko, Kecamatan Kasiruta Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Mata pencarian masyarakat Doko umumnya adalah petani cengkeh, kopra, dan nelayan. akibat harga pasar mempengaruhi harga batu, masyarakat pun beralih pekerjaan sebagai penambang batu.

Asbaha Rijal (33), petani yang beralih sebagai penambang batu Bacan Doko berkisah, ketika di temui pada Sabtu pekan lalu di sebuah rumah terpal – tempat tinggalnya bersama enam penambang lainnya di Tanjung Golao. Rumah terpal tersebut dinamakan Mes Oma Moy.

Mes Oma Moy adalah salah satu rumah terpal yang dibuat oleh para penambang. Asbaha sendiri sebagai Kepala Rep (Kepala Rep atau kordinator kelompok penambang). Selain kelompok dari Asbaha, kurang lebih ada 7000 penambang yang datang tinggal di Tanjung Golao.

Dari 7000 penambang yang tergabung dalam kelompok memiliki 200 lebih lubang tambang batu  Bacan Doko. Satu kelompok terdiri dari tujuh orang dan satu lubang tambang dikerjakan oleh lima kelompok. Di dalam rumah terpal, para penambang tidur seadanya, tempat tidur dibuat layaknya tandu pramuka berbahan karung beras, sisi tempat tidur menggunakan ranting yang dimanfaatkan dari pohon di pulau itu. 

Pagi harinya, para penambang batu memulai aktivitas menambang menuju lokasi lubang penggalian. Di sebuah lubang dengan kedalaman 40-50 meter lebar 2,5 meter, para penambang ini mulai berburu rupiah, berharap jika mendapat batu  berkualitas bisa dijual ke luar.

Asbaha berdiam diri sejenak di depan lubang. Matanya mengatup, tangannya dianggkat setinggi bahu. Mulut Asbaha bergerak. Begitu proses mendoakan kesalamatan sebelum masuk ke dalam lubang tambang itu. Asbaha dan beberapa teman penambang mulai masuk dengan berbekal palu, linggis kecil, dan parfum.“Sebelum menambang, parfum harus disemprot ke dinding batu terlebih dahulu,” ungkap Asbaha.

Setiap dua jam, para penambang bergantian masuk lubang untuk memahat bongkahan batu. Para penambang lainnya sambil menunggu, mereka bermain catur yang buah caturnya memakai sisa-sia batu Bacan Doko. Sementara yang lainnya menjaga mesin blower, mesin udara yang dinyalakan menggunakan genset.

Blower tersebut dipasangi plastik bening menyerupai selang. Plastik tersebut kemudian dimasukkan ke dalam lubang agar udara dapat masuk ke dalam lubang hingga penambang leluasa bernapas. Hasil dari menambang tidak menentu, dalam seminggu, para penambang bisa menghasilkan 100-200 juta. Sistem pendapatan menyerupai penghasilan petani kopra, yakni menggunakan sistem bagi hasil.

Para penambang tidak menyewa lahan tambang dari pemilik kebun. Hanya saja, hasil dari pertambangan dibagi hasil dengan pemilik lahan. “Pemilik lahan bisa mendapat dua bagian, sebagai pemilik lahan dan penunjuk lokasi lubang tambang. Upahnya, sama dengan upah para penambang,” jelas Asbaha.

Sebelum batu Bacan Doko tenar dari dalam dan luar negeri, Tanjung Golao dijadikan kebun kopra oleh penduduk lokal Kampung Doko, penduduk lokal pun mengambil batu akik seadanya untuk dijual murah bahkan ditukar dengan tembakau, beras, dan gula seadanya.

Meskipun begitu, batu akik tersebut dijual cukup mahal di luar daerah. Hingga pada tahun 2000-an, penduduk setempat mulai mengetahui akan harga pasar batu  Bacan Doko di luar daerah yang dipatok cukup mahal itu. Masyarakat lokal pun mulai menambang.

Paska tahun 2013, penambang dari luar daerah mulai berdatangan, menempati Tanjung Golao. Penduduk lokal pemilik lokasi kebun tidak lagi mengerjakan kopra, mereka menyerahkan lokasi kebun kepada penambang untuk mencari batu akik.

Penambang berdatangan dari dalam dan luar daerah Maluku Utara. Tidak hanya penambang, pembeli dan pedagang batu akik pun berdatangan. Pedagang sembaku pun membangun kios-kios kecil di pulau itu.

Harga transportasi dan sembako pun naik. Dulunya, penduduk lokal hanya mengeluarkan uang senilai Rp100.000 untuk sampai ke Kampung Doko dan Palameda menggunakan speed boat. Kini, para pengguna speed boat harus mengeluarkan uang senilai Rp.200.000 untuk sampai di Kampung Doko saja.

Ketua Asosiasi Speed boat Sofyan mengatakan, semenjak tenarnya batu Bacan Doko, orang-orang mulai berdatangan. Hal tersebut membuatnya harus ekstra keras mengurus jalur transportasi dan ketersediaan speed boat.

“Dulu, hanya ada 10 buah speed boat, hingga pada tahun 2015 sudah ada 67 buah speed boat untuk jalur ke pulau Golao, Doko, dan Palamea,” kata Sofyan. 

Dampak Sosial Lingkungan
Ketenaran batu Bacan Doko hingga ke luar negeri tidak sebanding dengan situasi yang dihadapi masyarakat Doko. Perubahan mata pencarian dan dampak lingkungan mulai terasa. Masyarakat jelas digiurkan dengan harga batu Bacan Doko. Hal tersebut karena hasil bertani cengkeh, kopra, dan nelayan begitu jauh dari hasil menambang batu Bacan Doko.

“Harga Batu Bacan Doko mempengaruhi kehidupan masyarakat Doko yang dulunya petani dan nelayan. Banyak anak-anak memilih tidak sekolah dengan alasan bekerja sebagai penambang batu lebih menghasilkan,” kata Darmin.

“Selain itu, batu Bacan adalah sumber daya alam yang tidak tergantikan, jika terus diambil secara massif maka akan habis. Masyarakat yang dulunya bertani dan nelaian bisa jadi akan kembali ke situasi yang sulit,” tambahnya. Munawir (28) Pemuda asal Kasiruta Timur mengatakan, tergiuarnya masyarakat akan harga batu ini jelas mempengaruhi kehidupan masyarakat Kampung Doko jika tidak diimbangi dengan pemahaman akan pentingnya pendidikan.
Bahkan, menurutnya, terjadi persaingan kelas dikalangan masyarakat itu sendiri. Tradisi pun kian berubah. Jika dulunya masyarakat saling memberikan makanan, kini tradisi tersebut kian menghilang. “Jika dulunya, tetangga bisa makan di rumah tetangga sebelahnya, kini tidak lagi. Situasi sekarang terbangun kelas sosial antara kaya dan miskin karena uang hasil bertambang batu Bacan Doko dan,”katanya. 

Menurutnya, tak sedikit masyarakat lokal yang kaget dengan penghasilan akan batu Bacan Doko. Bahkan, ada yang kebingungan pendapatan tersebut diperuntukkan bagaimana.

“Selain itu, dari 100 persen masyarakat Doko yang berbisnis batu Bacan Doko, hanya 30 persen yang menggunakan hasil pertambangan dengan menyekolahkan anak-anak dan membeli barang yang berguna untuk memutar modal,” tambahnya.

Di samping itu, kesadaran akan dampak lingkungan mulai terasa dikalangan para penambang dengan maraknya para penambang berdatangan di Pulao Doko. Jika dulunya masyarakat lokal menambang batu Bacan Doko dengan melihat kondisi tanah, kini, para penambang mulai menambang di daerah yang rawan akan terjadinya longsor.

“Penambang mulai banyak berdatangan dari seluruh daerah. Mereka mulai menambang di daerah perbukitan. Jika tidak diperhatikan, akan terjadi longsor ketika hujan,” ungkap salah satu penambang Amrin Pelu (28), warga Wayamiga, Bacan.

Amrin yang juga pernah bekerja sebagai penambang emas ini khawatir dengan pembiaran tersebut, bahkan pemerintah daerah sendiri tidak pernah melakukan pendampingan dan pemahaman akan dampak lingkungan. “Selama ini pemerintah bahkan dinas Pertambangan tidak pernah datang ke sini,”katanya. []  
Oleh : Faris Bobero

Suara Jalanan di Hari Sumpah Pemuda

SASTRA
 
Drama dan teatrikal mahasiswa FKIP Unkhair di Hotel Veliya

Kami yang kini terbaring 

Tidak bisa teriak merdeka dan angkat bicara
Mengapa kalian tidak mendengar  bicara kami
Serentak hening. Beberapa kepala para orangtua tertunduk, merenung. Di sisi lain, mata orang muda terbuka lebar, jiwa mereka seperti membara menyaksikan Komunitas Parlemen Jalanan (PAJ) menyuarahkan kondisi Indonesia lewat drama yang dibacanan di Hotel Velya, Rabu (28/10/2015) 

Hari ini, kami bicara dengan bahasa nurani kami
Jika dada rasa hampa dan waktu berputar
Kami akan mati
 
Kami sudah bicara apa yang kami mau
Tapi kalian belum bisa menerjemahkan arti kemerdekaan.

Begitulah  suara lantang yang disuarakan  dalam  drama yang berjudul “Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk”. Naskah Drama PAJ tersebut dibawakan oleh 19 mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastera Indonesia FKIP Universitas Khairun Ternate dalam kegiatan bertajuk “Aktualisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda untuk Mengutamakan, Melestarikan Bahasa Daerah dan Mempelajari Bahasa Asing”. Kegiatan diselenggarakan oleh FKIP Unkair bekerjasana dengan Kantor Bahasa Malut.

Dalam lakon drama itu mereka menunjukkan peran antagonis layaknya penguasa yang rakus dengan  korporasi yang hingga  kini masih menjajah ibu pertiwi dengan cara mengambil lebih sumber daya alam dan merusak lingkungan. 
“Drama ini merefleksikan masa perjuangan orang muda dalam kemerdekaan bahkan menggambarkan kondisi Negeri saat ini yang masih dibodohi oleh sistem dan kekuasaan yang berpihak pada pemodal saja,”kata penulis naskah drama Rafsanjani Hi Laha yang juga salah satu pengurus PAJ dan mahasiswa FKIP Unkhair. Naskah tersebut dibuat bersama Nuriman N Bayan
 
Di sela-sela kegiatan, Nuriman N Bayan memaparkan kondisi kekinian masyarakat, mulai dari kebebasan berekspresi yang dibungkam, krisis air dan bencana alam akibat dari penggarukan sumber daya alam skala masif. 

“Saat ini, kebebasan berekpresi pun dibungkam. Para pemuda, orang tua, ibu menyusui yang korban akan ketidak adilan, tidak dapat menyampaikan keluhan mereka,” ungkap Rafsanjani menjelaskan kondisi kekinian di Kota Ternate bahkan menurutnya hampir semua kasus tersebut pun terjadi di daerah-daerah di Indonesia. Di Maluku Utara, khusunya di Kota Ternate pun mengalami krisis air bersih dan hal ini berdampak pada kesehatan generasi penerus yakni pada ibu dan bayi. Sumber Air Ake Ga ale untuk masyarakat Sangaji hingga Tafure di Ternate Utara saat ini pun masih payau dan tidak layak di komsumsi. Hal itu karena pihak PDAM memperipatisasi sumber air tersebut dengan cara membuat air kemasan bermerek Ino Ake.

Belum lagi pemerintah membuat perda terkait dengan pengelolaan air bersih. Hal ini kemudian membuat para pengusaha mendapatkan air dengan gratis melalui sumur bor yang mereka buat. Sementar masyarakat berpenghasilan rendah terus membayar air dengan mahal. 

Menurut aktivis lingkungan Zulkifli Idris, krisis air dan penyebab air payau karena tidak ada Perda menyangkut pengelolaan air bersih. Hal ini membuat pihak pengusaha seperti perhotelan dan lainnya bebas memakai air secara gratis dengan cara membuat sumur bor. “Seharusnya pemerintah melihat ini dan menindak para pengusaha yang mempripatisasi air. Demikian juga seperti PDAM yang saat ini mengemas air dari Ake Ga ale,” Tegas Zulkifli. []

Catatan: 
Pernah dimuat di kabarpulau.com pada Wednesday, 28 October 2015 23:38  

Wednesday, 17 February 2016

Perjanjian Paris dan Petaka di Pulau kecil

Foto Doc Walhi Malut
TERNATE – Perjanjian Paris dalam konvensi perubahan iklim yang dihadiri Negara-negara maju pada 12 Desember 2015 kemarin, perlu ditinjau kembali. Dalam konvensi tersebut hanya mementingkan keuntungan negara kaya, tidak ada jaminan perbaikan iklim dan kesejahteraan rakyat, bahkan rakyat yang berada di pulau-pulau kecil.

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Abetnego Tarigan saat berdiskusi dengan anggota Aliansi Jurnalis Independen Kota Ternate di Rumah AJI Kota Ternate, Selasa (15/12/2015).

“Nyaris dalam perjanjian tersebut, pulau-pulau kecil tidak dibicarakan, apalagi di Maluku Utara? sayangnya kebijakan pemerintah hanya melihat pulau besar dengan jumlah populasinya. Pulau kecil diabaikan karena jumlah manusianya sedikit,” kata Abetnego.

Padahal, ancaman hilangnya pulau-pulau kecil di Maluku Utara (Malut) Nampak terlihat akibat maraknya eksploitasi sumber daya alam dan maraknya izin perusahan tambang. Kasus eksploitasi besar-besaran Pulau Gebe dan pulau Gee oleh perusahan tambang. Ditambah lagi masuknya perusahan sawit di Gane.
Direktur Walhi Malut Ismet Suleman mengatakan, ada 360 Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Malut. Dengan hal ini membuka peluang pembukaan lahan secara paksa milik warga. IUP yang tersebar di seantero wilayah Malut mengambil wilayah Malut sebesar 2.618.670 hektare. Sedangkan luas daratan Malut hanya 3.327.800 hektare.

“Sudah dua pulau kecil di Malut yang hilang. Ruang kelola rakyat hilang. Dan rakyat tidak punya akses menyuarakan ini ke pemerintah, apalagi ke pemerintah pusat. Rakyat di pulau-pulau kecil rawan akan intimidasi karena jauh dari segala akses termasuk akses komunikasi,”ungkap Ismet.

Sikap Walhi Menangapi Konvensi Perubahan Iklim 2015 di Paris
Paris, 12 Desember 2015. Konvensi Perubahan Iklim 2015 di Paris telah berakhir dengan lahirnya kesepakatan baru untuk penanganan perubahan iklim global. Meski sebelumnya, konvensi yang harusnya berakhir tanggal 11 Desember 2015, mesti diperpanjang satu hari karena sulitnya menemukan kesepakatan. Betulkah ini menjadi solusi?

“Bagi politisi, ini adalah kesepakatan yang adil dan ambisius, namun hal ini justru sebaliknya. Kesepakatan ini pasti akan gagal dan masyarakat sedang ditipu. Masyarakat terdampak dan rentan terhadap perubahan iklim mestinya mendapat hal yang lebih baik dari kesepakatan ini. Mereka yang paling merasakan dampak terburuk dari kegagalan politisi dalam mengambil tindakan,” menurut Dipti Bathnagar, Koordinator Keadilan Iklim dan energi, Friends of the Erath International dalam keterangan persnya.

Negara-negara maju telah menggeser harapan sangat jauh dan memberikan rakyat kesepakatan palsu di Paris. Melalui janji-janji dan taktik intimidasi, negara-negara maju telah mendorong sebuah kesepakatan yang sangat buruk. Negara maju, khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa mestinya melakukan membagi tanggung jawab yang adil (fair share) untuk menurunkan emisi, memberikan pendanaan dan dukungan alih tekhnologi bagi negara-negara berkembang untuk membantu mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Namun, di Paris, negara-negara kaya berupaya membongkar konvensi perubahan iklim untuk memastikan kepentingan mereka sendiri.

Kurniawan Sabar, Manajer Kampanye WALHI menegaskan, “bagi Indonesia, kesepakatan di Paris akan memberikan dampak sangat signifikan bagi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Kesepakatan iklim di Paris, tidak memberikan jaminan perubahan sistem pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, dan dengan demikian, lingkungan dan masyarakat Indonesia yang rentan dan terdampak perubahan iklim akan berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan.”kata Kurniawan.

Sikap pemerintah Indonesia yang sangat pragmatis dan tidak memainkan peran strategis dalam negosiasi di Paris, sesungguhnya telah meletakkan Indonesia sebagai negara yang hanya mengikut pada kesepakatan dan kepentingan negara maju. Pemerintah Indonesia lebih mementingkan dukungan program yang merupakan bagian dari mekanisme pasar (market mechanism) yang telah dibangun oleh Negara-negara maju dalam negosiasi di Paris.

“kita tidak bisa berharap perbaikan sistem pengelolaan sumber daya alam di Indonesia yang lebih maju, jika pengelolaan hutan, pesisir dan laut, dan energi Indonesia masih menjadi bagian dari skema pasar khususnya hanya untuk memenuhi hasrat negara maju untuk mitigasi perubahan iklim. Dukungan yang dimaksudkan pemerintah Indonesia dari kesepakatan di Paris tidak akan berarti dan tidak akan berhasil tanpa perbaikan tata kelola hutan dan gambut, pesisir dan laut, menghentikan penggunaan energi dari sumber kotor batubara, serta menghentikan kejahatan korporasi dalam pengelolaan sumber daya alam di Indonesia.” Lanjut menurut Kurniawan Sabar.  

Sebagai catatan kritis, beberapa masalah penting yang menjadi analisis group Friends of the Earth terkait kesepakatan di Paris, yakni:

Pertama, kesepakatan Paris menegaskan bahwa 2 derajat Celcius adalah tingkat maksimum kenaikan temperatur global, dan bahwa setiap negara harus meningkatkan upaya untuk membatasi peningkatan temperatur hingga batas 1,5 dearajat Celcius. Hal ini tidak akan berarti tanpa mensyaratkan negara-negara maju untuk memangkas emisi mereka secara drastis dan memberikan dukungan finansial sesuai tanggung jawab yang adil, serta memberikan beban tambahan kepada negara-negara berkembang. Untuk mencegah perubahan iklim kita mesti segera dan secara drastis menurunkan emisi, tidak melakukan penundaan.

Kedua, tanpa kompensasi untuk memperbaiki kerusakan lingkungan, negara-negara yang rentan akan menaggung berbagai masalah dan beban dari krisis yang sebenarnya bukan diciptakan oleh mereka.
Ketiga, tanpa finansial yang memadai, negara-negara miskin akan dijadikan sebagai pihak yang harus menaggung beban dari krisis yang tidak berasal dari mereka. Pendanaan tersedia, namun kemauan politik (political will) tidak ada.
Keempat, satu-satunya kewajiban yang mengikat secara hukum (legally binding) bagi negara maju adalah mereka harus melaporkan seluruh pendanaan yang mereka sediakan.
Kelima, pintu sangat terbuka bagi pasar untuk mengeksploitasi krisis iklim tanpa pembatasan secara spesifik dalam teks. Hal ini menjadi kartu bebas bagi poluter terbesar dalam sejarah. Dalam kasus REDD+ misalnya, akan menjadikan negara-negara maju mendukung proyek perkebunan yang merusak di negara-negara berkembang dan bukannya berupaya mengurangi emisi dari bahan bakar fosil di negeri mereka sendiri.

Di hari akhir negosiasi iklim di Paris, lebih dari 2.000 orang aktivis federasi Friends of the Earth International bersama ribuan masyarakat Paris melakukan aksi untuk menyampaikan pesan global untuk keadilan klim dan perdamaian (Climate Justice Peace) yang tersebar di tengah kota Paris (4). Aksi ini sebagai bagian dari gerakan masyarakat sipil yang dimobilisasi oleh Friends of the Earth International untuk menilai dan menyampaikan tuntutan masyarakat sipil untuk keadilan iklim selama proses UNFCCC COP 21 Paris.[]

Catatan:
- Pernah dimuat di kabarpulau.com edisi : Friday, 18 December 2015 05:01  

Bertahan Hidup di Tengah Krisis Air Bersih


foto doc kabarpulau.com

TERNATE – Hampir setahun warga Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara krisis air bersih. Warga tidak dapat mengonsumsi sumber air dari PDAM Kota Ternate. Untuk mendapat air bersih, warga harus membeli air galon di depot air untuk kebutuhan minum dan memasak.

Pantauan kabarpulau.com, Sejak April 2015 hingga Februari 2016, warga Kecamatan Ternate Utara yang tercatat sebagai pelanggan PDAM Kota Ternate masih menggunakan air asin atau payau sumber PDAM Kota Ternate untuk keperluan mandi. “Sejak April 2015 hingga saat ini, kami tidak dapat mengkomsumsi air bersih dari kran yang disalurkan oleh PDAM Kota Ternate karena asin. Kami terpaksa mengambil air dari sumur tetangga untuk keperluan memasak, sedangkan untuk minum, kami beli air galon di depot. Air PDAM hanya dipakai untuk mandi” ungkap Amir (53), salah satu pelanggan PDAM Kota Ternate ketika ditemui di rumahnya, di Kelurahan Tafure, Rabu (10/02/2016).

Akibat dari air yang terasa asin, kran di rumah keluarga Amir pun karatan dan mengalami kerusakan. Keluarga Amir mencatat sudah dua kali mengganti kran di rumah karena rusak.

Meskipun demikian, masyarakat tetap bertahan dan berlangganan ke PDAM Kota Ternate, mereka menggunakan air PDAM untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Namun, untuk memandikan bayi bahkan mencuci pakaian bayi, pihak keluarga Amir menggunakan air sumur milik warga sekitar. Setiap harinya, keluarga Amir harus berjalan kaki kurang lebih 20 meter untuk mengambil air sumur milik warga sekitar.
Salah satu ibu rumah tangga, Wilda (25), warga Kelurahan Akehuda, Ternate Utara juga mengatakan hal yang sama. Mereka terpaksa membeli air bersih di depot air minum unuk kebutuhan sehari-hari. “Sejak air PDAM terasa asin, kami harus mencari air galon untuk minum sehari-hari,”kata Wilda.

Nurbaya (40), warga kelurhan Dufa-Dufa Ternate Utara mengatakan, pihaknya khawatir jika menanak nasi menggunakan air PDAM karena alasan kesehatan. “Jadi, untuk menanak nasi, kami pakai air galon yang kami beli di depot air minum. Kebutuhan ekonomi semakin tinggi jika begini terus. Apalagi di sekitar sini, masyarakat tidak ada sumur, semua masih bergantung pada air PDAM, sayangnya, kami hanya menggunakan air PDAM untuk mandi,” keluh Nurbaya.

Air tidak Payau?
Direktur PDAM Kota Ternate Syaiful Djafar ketika ditemui di kantor PDAM Kota Ternate pada Senin (28/12/2015) sempat mengelak dan mengatakan bahwa air dari PDAM tidak asin atau payau.
“Tidak ada yang bisa bilang salobar (payau). Tawar!  Tiap hari orang ambil air wuduh di masjid samping PDAM Kota Ternate,” kata Syaiful.

Meskipun demikian, Syaiful mengaku telah terjadi intrusi air laut di sumber air Ake Gaale di PDAM Kota Ternate. Tak hanya itu, ia pun mengatakan bahwa ada eksploitasi berlebihan di sumber air Ake Gaale.
“Pertama, kita mengeksplorasi atau kita eksploitasi melebihi daya dukung yang ada. Anggaplah di sini, para ahli bilang bahwa, di sini hanya bisa di ambil kurang lebih 80 liter perdetik, pada saat kejadian itu, kita sudah ambil 120 liter perdetik, sudah melebihi separuh dari daya dukung yang ada. Dari 80 liter kita sudah ambil 120 liter,”ungkapnya.

Pada 2015, kondisi ini sempat menimbulkan reaksi di masyarakat. Masyarakat kelurahan Akehuda, Dufa-Dufa, dan Kelurahan Sangaji melakukan aksi di Kantor PDAM Kota Ternate.
Selain itu, masyarakat Kelurahan Sangaji yang berdekatan dengan Kantor PDAM Kota Ternate pun mengeluhkan kondisi air sumur mereka yang asin. Hal ini dibenarkan Syaiful. “Memang air sumur mereka asin. Betul-betul asin,”ungkapnya.  

Pihak PDAM Kota Ternate pun mengambil langkah pemasangan air PDAM gratis untuk 54 rumah tangga yang mengeluhkan air sumur menjadi asin. 

Syaiful mengatakan, beberapa masyarakat yang terlibat aksi, menyampaikan bahwa, selama sumber air masih terasa asin, mereka tidak akan membayar ke PDAM. Kejadian ini pun langsung mendapat respon dari Pemerintah Kota Ternate.

“Waktu demo, pak walikota datang dan bicarakan kasih kompensasi ke masyarakat mulai Januari sampai dengan April 2015 kalau tidak salah. Jadi mereka punya air yang sudah muncul di rekening, PDAM bayar. Jadi sudah bentuk piutang. DPAM bayar kuranglebih ada 30-40 juta untuk tutupi rekening itu,”katanya. Hingga sekarang, masih ada sebagian masyarakat yang tidak membayar.

“Lalu kemudian masalah itu berlalu. Kemudian sekarang ini, mereka ada galang aksi tidak bayar sampai sekarang. kami (PDAM) belum ada reaksi apa-apa. Memang ada yang punya kesadaran dan bayar. Jadi ada yang sampai sekarang tidak bayar,”tambahnya.

Mencari Solusi
Akibat dari itu, Syaiful berjanji, pihaknya akan memperbaiki kondisi air yang dirasakan masyarakat Kecamatan Ternate Utara. Ia mengatakan, tidak ada jalan lain untuk perbaikan sumber air Ake Gaale selain memindahkan lokasi sumber air. 

“Jadi jalan satu-satunya memindahkan lokasi sumber air yang terlalu dekat dengan air laut. Jadi, sekarang ada sumur bor yang dilakukan di Kelurahan Facei, di ketinggian 80 meter. Di situ ada dua sumur bor yang dibuat di sana. Ya jadi kalau satu sumur bor bisa dapat 10-20 liter,” kata Syaiful.

Menurutnya, pengerjaan sumur bor di Kelurahan Facei akan berakhir pada Desember 2015. “Jadi, jika sudah selesai, satu-dua bulan sudah bisa operasi,” katanya. Namun, hingga sekarang, memasuki Februari 2016, masyarakat masih mengeluhkan air bersih.[]

-Pernah dimuat di kabarpulau.com pada 11 Februari 2016
http://kabarpulau.com/2015-06-30-17-12-58/kabar-kota-pulau/item/247-bertahan-hidup-di-tengah-krisis-air-bersih



Monday, 25 January 2016

Nostalgia di Pulau Tak Berpenghuni

Situasi malam hari, Senin (08/06/2015) saat berkemah di Pulau Mede. dari kiri ke kanan, Faris Bobero (Penulis), Dzul, Ipang, Aidy, Wira.
Pulau Mede adalah salah satu Pulau kecil tak berpenghuni, tak banyak diketahui orang Bahkan jarang dikunjungi wisatawan karena tidak terpromosikan ke publik keindahan wisatanya. Namun, Pulau ini telah mengukur banyak cerita nostalgia saya ketika berada di sana.

Tepatnya pukul 05.10 WIT pada Minggu (07/06/2015), saat gerimis dan angin laut berhembus di utara Kota Ternate,  Ipang (28), teman saya dengan kendaraan bermotor datang ke Rumah, di Tafure, tempat saya tinggal. Dengan maksud “Bayar Niat” untuk berpergian ke Pulau Mede di depan Desa Popilo, Tobelo, Halmahera Utara. Salah satu pulau kecil tak berpenghuni yang selalu saya rindukan.
Agenda ini kali kedua, saya bersama Ipang berniat pergi setelah setahun. Namun, niat ini ternyata mengundang niat teman saya yang satu ini, Dzul. Alasanya, tahun kemarin, ia tidak sempat ikut. Dzul mengunakan motor matic, sedangkan saya berboncengan dengan Ipang. Kita bertiga akhirnya menuju Pelabuhan Ferry di bastiong dengan tujuan menuju Sidangoli.
Menumpangi Ferry Kerapu berkisar dua jam perjalanan ke Sidangoli. Dengan modal tiket satu kendaraan bermotor Rp42.000 dan tiket perorang Rp.19.000.
Untuk menuju ke Tobelo dari Kota Ternate, bisa juga menggunakan jasa speed boad dengan harga perorang Rp50.000 ke Sofifi lalu naik angkot menuju Tobelo dengan harga tiket Rp.100.00 perorang. Jarak tempuh kurang lebih 3-4 jam perjalanan.
Tobelo terletak di semenanjung utara Pulau Halmahera, berbatasan dengan kecamatan Kao dan Galela di selatan. Dengan  luas daratan 808,4 Km2 dan dihuni oleh sekitar 83.575 jiwa (Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halut tahun 2012).
Sesampai di Sidangoli, tak lupa kita periksa keadaan kendaran, mulai dari ban, kondisi oli, hingga bahan bakar motor. Tidak lupa memakai jaket untuk menahan terik matahari maupun hujan yang mungkin nanti mengguyur tiba-tiba di tengah perjalanan.
Kurang lebih lima jam perjalanan kita bertiga sampai di Tobelo. Saat itu, kondisi cuaca kurang mendukung, awan hitam menyelimuti alam Halmahera Utara, beruntung saat di Tobelo, sesampai di rumah saya, di Dufa-Dufa, barulah hujan lebat mengguyur. Malam itu juga, selepas ba’dah Isya hujan redah. Kita menuju Popilo bertemu Humaidi Djaguna (28), saya biasa menyapanya Aidi. Malam itu kita menyusun agenda, jika esok hari tidak hujan, kita berniat naik gunung Dukono, mandi di Air Panas Mamuya, lalu ke Pulau Mede.
Setelah berbincang, kita bertiga balik ke Dufa-Dufa. Menginap semalam di rumah saya, rumah panggung di atas Pantai Dufa-Dufa.
Malam itu, gongongan halilintar menemani tidur kita, seng yang bocor membuat air hujan leluasa masuk ke bilik kamar. Dzul tertidur pulas sambil mendengkur di samping kanan saya, namun Ipang di samping kiri saya tidak bisa tidur nyenyak akibat percikan air yang keluar dari atas seng. Saya sedikit minder dengan kondisi ini. 
Hingga pagi tiba, langit masih mendung, dan akhirnya beberapa jam kemudian hujan lebat. Putus asa menghampiri, untuk bepergian. Beruntung sore harinya, hujan reda. Niat pun terpenuhi. Menuju Pulau Mede. 
Gunung Mamuya terlihat dari Pulau Mede
Terlepas dari keindahan wisata pulau-pulau lain, seperti pulau Dodola, Zum-zum, bahkan wilayah "nostalgia" perang dunia kedua lainnya di Halmahera. Pulau Mede tetap menjadi nostalgiaku, Pulau kecil yang tidak banyak dikunjungi oleh orang-orang.
Tidak hanya keindahan pulaunya, keramahan, dan budaya orang Popilo inilah yang selalu membuat saya rindu akan kampung ini. beberapa kali saya ke Pulau Mede, beberapa masyarakat selalu meminjamkan sampan tanpa harus saya mengeluarkan uang sepeserpun sebagai upah sewa. 
Kurang lebih 10 menit mendayung sampan dari Desa Popilo ke Pulau Mede. Di sana, bersama teman akrab yang telah menjadi saudara angkatku, Aidy, Wirahai Fadel, Dzul, dan Ipang kita mengukir kisah-kisah indah di Pulau ini. mendirikan tenda seadanya, dan membuat bifak untuk tempat memasak. 

Aidy bercerita, dulunya, masyarakat setempat selalu mencari kerang di laut saat bulan terang, lalu kemudian menemukan Pulau Mede. Mede sendiri artinya bulan terang. Saat itulah masyarakat mulai menamakan pulau pulau Mede.
Selain Pulau Mede, Pulau Tagalaya, Kakara, Pantai Kupa-Kupa, Telaga Paca, Kumo, Luari, Pulau Meti, Pantai Carlen Pitu, Rorangane, Pawole, Pasir Timbul, Bukit Doa di kaki Gunung Dukono, serta Air Terjun Jembatan Batu menjadi daya tarik para wisatawan.
Meskipun demikian, terlepas dari keindahan wisata Pulau-Pulau di Tobelo, Halmahera Utara, Pulau Mede selau menjadi tempat bernostalgia saya dengan teman-teman. Selain jauh dari hiruk-pikur kebisingan kota, pulau tak berpenghuni ini menyediakan sumber makanan, seperti pisang, kelapa muda, ikan segar di laut, pepaya, dan buah-buahan lainnya yang ditanam oleh masyarakat sekitar. Tradisi “baku kasih” bahan makanan masih terjaga.